FC Thun mencetak sejarah besar dalam sepak bola Eropa dengan memenangkan gelar juara Liga Swiss pada Senin, 5 Mei 2026, meski baru saja kembali ke kasta tertinggi sebagai tim promosi. Pencapaian ini menjadi puncak dari perjalanan dramatis klub selama 20 tahun terakhir di bawah pengawasan Andres Gerber.
Keberhasilan skuat asuhan Mauro Lustrinelli ini sangat kontras dengan sejarah panjang klub yang penuh gejolak. Sejak tahun 2005, klub asal Berner Oberland tersebut telah mengalami berbagai fase ekstrem, mulai dari kompetisi Liga Champions hingga ancaman kebangkrutan dan skandal hukum.
Presiden FC Thun, Andres Gerber, yang telah bersama klub sebagai pemain, direktur olahraga, hingga presiden, mengenang momen kejayaan awal saat mereka lolos ke Liga Champions pada 2005 silam. Saat itu, Thun mengejutkan publik dengan menyingkirkan tim-tim besar meskipun memiliki anggaran yang sangat minim.
"Der schönste Moment war der Schlusspfiff gegen Malmö, diese Ekstase im erstmals ausverkauften Wankdorf bleibt für immer haften" kenang Gerber, Presiden FC Thun.
Gerber juga menyoroti pertandingan kualifikasi melawan Dynamo Kiev yang memiliki kekuatan finansial jauh di atas mereka. Ia menyamakan perjuangan timnya saat itu seperti pertarungan antara Daud melawan Goliath di lapangan hijau.
"Es war David gegen Goliath. Der xG-Wert lautete gefühlt 10:0 für sie, aber wir spielten 2:2" kata Gerber, Presiden FC Thun.
Meskipun meraih sukses besar dan pendapatan mencapai 20 juta Franc Swiss, klub justru mengalami keguncangan internal akibat ekspektasi yang terlalu tinggi. Gerber menjelaskan bahwa timnya saat itu bermain dengan semangat kebersamaan yang tinggi, namun kesuksesan finansial membawa tuntutan gaji yang lebih besar dari para pemain.
"Die ganze Kampagne war ein Genuss" tutur Gerber, Presiden FC Thun.
Ia menambahkan bahwa suasana tim pada masa itu sangat spontan dan tidak memiliki struktur yang sangat terencana. Hal tersebut sempat menjadi kekuatan utama mereka dalam membangun kerja sama tim.
"Wir waren etwas naiv und lausbübisch, nicht alles war so klar strukturiert oder geplant. Aber das war unser Trumpf und die Leidenschaft und der Zusammenhalt unsere grosse Stärke" ungkap Gerber, Presiden FC Thun.
Namun, era keemasan itu segera diikuti oleh masa-masa kelam, termasuk masalah internal mengenai pembagian pendapatan klub. Tekanan dari agen, staf, dan pemain membuat stabilitas tim terganggu karena semua pihak ingin mendapatkan bagian dari keuntungan besar tersebut.
"Alle wussten ja, dass Thun nun Geld hat. Wir Spieler hatten relativ tiefe Löhne und dachten, jetzt wollen auch wir mal richtig gut verdienen" ucap Gerber, Presiden FC Thun.
Kondisi semakin memburuk ketika ekspektasi lingkungan sekitar tidak lagi bisa dipenuhi oleh prestasi di lapangan. Gerber merasa identitas klub sempat memudar karena standar kesuksesan yang bergeser secara drastis setelah mencicipi kompetisi Eropa.
"Eine Durchschnittssaison war nicht mehr gut genug" jelas Gerber, Presiden FC Thun.
Ia juga menegaskan dampak psikologis yang dirasakan seluruh anggota klub selama periode transisi tersebut. Ketidakpastian mulai menyelimuti markas tim seiring dengan meningkatnya kegelisahan di internal manajemen.
"Die Seele des Klubs ging in dieser Zeit verloren" tegas Gerber, Presiden FC Thun.
Masalah semakin pelik ketika pada 13 November 2007, polisi menangkap 12 pemain terkait dugaan tindakan asusila. Kejadian ini menciptakan citra buruk bagi klub di mata publik, di mana para pemain yang tidak terlibat pun ikut terkena dampak kecurigaan umum.
"Man kann nur hoffen, dass es halb so schlimm ist, wie es tönt" ujar Kurt Weder, Mantan Presiden FC Thun.
Gerber menceritakan suasana mencekam saat para pemain keluar dari ruang ganti dan dihadang oleh puluhan kamera wartawan. Ia merasa diperlakukan layaknya pelaku kejahatan kelas berat meskipun banyak dari mereka yang bersih dari tuduhan.
"Als wir aus der Kabine kamen, warteten 20 bis 30 Fotografen, Kameras und Mikrofone auf uns – wie nach einem Wimbledon-Sieg Federers" kata Gerber, Presiden FC Thun.
Klub mengalami kesulitan untuk memberikan pembelaan karena proses hukum yang sedang berjalan mengharuskan mereka untuk tetap diam. Hal ini membuat para penggemar lawan di stadion-stadion lain terus mencemooh klub selama bertahun-tahun kemudian.
"Das Schlimme war der Generalverdacht, unter dem auch wir nicht involvierten Personen standen. Wir wussten gar nicht, was passiert ist, und kamen uns teilweise wie Schwerverbrecher vor" tutur Gerber, Presiden FC Thun.
Situasi baru mereda setelah manajemen merilis daftar resmi nama pemain yang dipastikan tidak terlibat dalam skandal tersebut. Namun, stigma negatif tetap melekat dan menjadi bagian dari beban sejarah yang harus dipikul oleh FC Thun.
"Das Ganze war unverhältnismässig und hat sich erst etwas entschärft, als wir eine Liste mit den Namen der Spieler veröffentlichten, die nichts mit dem Skandal zu tun hatten" pungkas Gerber, Presiden FC Thun.
Gerber menambahkan bahwa dampak dari ejekan pendukung lawan terasa sangat membekas bagi psikologis tim. Mereka harus berjuang di tengah tekanan eksternal yang sangat masif selama periode sulit di liga.
"Noch jahrelang wurden wir in fremden Stadien von den Fans verhöhnt" tambah Gerber, Presiden FC Thun.
Cobaan berikutnya datang pada 2009 melalui pengungkapan skandal pengaturan skor global yang melibatkan dua pemain Thun di kasta kedua. Meskipun klub secara institusi tidak terlibat langsung, nama baik tim kembali terseret dalam pemberitaan negatif kepolisian Jerman.
"Eigentlich hatte der FC Thun damit gar nichts zu tun. Es waren einfach einzelne Leute, die sich nicht ans Gesetz gehalten haben" jelas Gerber, Presiden FC Thun.
Ia mengakui bahwa insiden tersebut menciptakan rasa ketidakpercayaan yang mendalam di dalam klub. Gerber belajar bahwa ketenangan dalam dunia sepak bola hanyalah bersifat sementara dan bisa berubah menjadi kekacauan dalam sekejap.
"Solche Dinge sind immer unangenehm. Man wird misstrauisch und weiss nicht, ob irgendwann noch mehr kommt" ungkap Gerber, Presiden FC Thun.
Dalam tinjauan sejarahnya, Gerber juga menyebutkan adanya laporan skandal kedua pada 2009 yang melibatkan tindakan non-konsensual oleh pemain terhadap seorang wanita. Meskipun Pengadilan Federal membebaskan tiga pemain yang terlibat pada 2016, kasus ini tetap tercatat sebagai bagian dari sejarah kelam klub.
"Ehrlich gesagt, mochte ich mich gar nicht mehr erinnern, dass da nochmals etwas war" aku Gerber, Presiden FC Thun.
Meski demikian, Gerber menilai dampak dari kasus kedua ini perlu dilihat secara proporsional di tengah dramatisasi media. Baginya, setiap kejadian pahit tetap merupakan komponen yang membentuk sejarah FC Thun hingga saat ini.
"Aber auch dieser Fall gehört zu unserer Geschichte" tutup Gerber, Presiden FC Thun.
Dari sisi finansial, FC Thun terus berjuang melawan krisis keuangan yang sering kali mengancam eksistensi klub. Gerber mengakui sering mengalami kesulitan tidur saat harus memastikan klub mendapatkan lisensi kompetisi di tengah beban utang dan kebutuhan akan penangguhan pembayaran.
"Ich hatte deswegen mehrere schlaflose Nächte" papar Gerber, Presiden FC Thun.
Keberlangsungan hidup banyak orang bergantung pada keputusan-keputusan sulit yang diambil oleh manajemen. Klub sangat bergantung pada penjualan pemain berbakat ke tim lain untuk menjaga keseimbangan neraca keuangan agar tidak jatuh ke jurang kebangkrutan.
"Da hat es jeweils viel gebraucht: Verzichte, Rangrücktritte, Aufschiebungen, Garantien" urai Gerber, Presiden FC Thun.
Kekhawatiran terbesar muncul ketika transfer pemain kunci yang sudah direncanakan terancam batal karena faktor cedera mendadak. Gerber merasakan beban tanggung jawab yang sangat besar terhadap kesejahteraan seluruh karyawan dan keluarga mereka yang bernaung di bawah klub.
"Die Verantwortung ist nicht zu unterschätzen. Es geht um die Existenz vieler Menschen" tegas Gerber, Presiden FC Thun.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·