Fenomena Panic Stall di Perlintasan Sebidang, Faktor Teknis atau Human Error?

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Arpin (40) menjaga pintu perlintasan kereta api sebidang di kawasan TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Kamis (30/4/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Cukup banyak kasus kendaraan yang terjebak di tengah perlintasan sebidang, hingga saat ini belum ada definisi yang benar-benar pasti menjelaskan fenomena tersebut. Namun, setidaknya ada dua hal yang bisa dipetik.

Mayoritas publik menganggap peristiwa tersebut diakibatkan oleh malfungsi sistem kendaraan yang berasal dari elektromagnetik atau ada yang menyebutnya sebagai efek impedansi. Demikian dikatakan Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eka Rahman Priandana.

"Hanya ada satu jurnal yang membahas 'efek impedansi' pada rel kereta ini, yakni dari Universitas Negeri PGRI Kediri. Menurut peneliti yang menulis jurnal tersebut, terukur rel kereta hanya memancarkan medan elektromagnetik sebesar 82 microTesla alias tidak cukup kuat untuk mengacaukan sistem ECU (Electronic Control Unit) kendaraan," katanya kepada kumparan, Rabu (29/4/2026).

Kemudian, faktor lain yang dinilai paling masuk adalah perilaku psikologis ketika pengemudi merasa tertekan dengan bahaya yang sedang menghampirinya, contohnya seperti ancaman tabrakan kereta api. Ini disebut sebagai 'panic stall'.

Pengendara melintas di perlintasan sebidang di kawasan Duren Jaya, Kota Bekasi, Kamis (30/4/2026), setelah PT KAI memasang palang pintu pembatas di lokasi tersebut. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Menurut pendiri EV Safe sekaligus dosen di National Battery Research Institute, Mahaendra Gofar menjelaskan istilah 'panic stall' awalnya untuk menggambarkan situasi yang terjadi pada perilaku pengemudi kendaraan bertransmisi manual.

"Panic stall adalah kondisi di mana mesin mobil mati (mogok) saat berada di atas rel karena pengemudi merasa panik. Rasa panik ini bisa menyebabkan pada mobil manual, pengemudi yang panik seringkali melakukan dua kesalahan fatal secara bersamaan," urai Gofar kepada kumparan, Kamis (30/4).

Gofar menambahkan, dua kesalahan fatal tersebut adalah melepas pedal kopling terlalu cepat karena rasa ingin segera tancap pedal akselerator. Tetapi kaki kiri yang harusnya menginjak dan menahan pedal kopling tidak stabil sehingga mesin mati mendadak.

"Kemudian yang kedua lupa menginjak kopling saat mengerem saat melihat palang turun, pengemudi menginjak rem secara mendadak tanpa menekan kopling, yang langsung mematikan mesin," papar Gofar.

Petugas KAI mengevakuasi bangkai mobil Daihatsu Grand Max yang tertabrak KA Harina relasi Surabaya Pasarturi-Bandung di perlintasan kereta api tanpa palang pintu di Desa Brumbung, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Minggu (15/2/2026). Foto: Aji Styawan/ANTARA FOTO

Bagaimana kasus mobil listrik? Gofar bilang karena sistem BEV kecil kemungkinan mengalami 'stall'. Namun kepanikan pengemudi pada situasi mendesak tersebut mungkin saja membuat prosedur pengoperasian menjadi rumit.

Ini dijelaskan oleh Founder dan instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu yang mengatakan kondisi amat terdesak membuat banyak orang seketika tidak mampu melakukan fungsi dasar dari cara-cara atau kebiasaan yang rutin dilakukan.

"Ketika panik itu terjadi seseorang itu akan mudah spontan melakukan sesuatu tanpa dia sadari. Sederhananya dia tidak bisa recall segala referensi yang ada di kepalanya, bahkan segala SOP atau prosedur yang biasa dijalankan pun jadi kacau," ucap Jusri kepada kumparan, Kamis (30/4/2026).

Seorang relawan penjaga perlintasan Kereta Rel Listrik (KRL) mengatur lalu lintas kendaraan di perlintasan sebidang di dekat Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (29/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Pada kebanyakan kasus, pengemudi atau penumpang justru menjadi terjebak dan tidak dapat membuka pintu karena situasi panik. Lainnya, memilih langsung meninggalkan kendaraan tanpa merasa mampu memindahkan dari lintasan rel.

"Kemampuan logikanya, ini bisa terjadi pada mobil listrik atau matik saat dia injak akselerator yang harusnya maju, mungkin dia pikirannya tertekan dan bingung akhirnya malah justru lari keluar," jelasnya.

"Biasanya saya melakukan pelatihan itu dibiasakan simulasi keadaan sangat darurat. Memang dalam teorinya itu selalu bisa dilakukan dengan sangat baik, tetapi pada realitanya tentu ceritanya bisa saja berbeda-beda," ucap Jusri.