PT Freeport Indonesia (PTFI) resmi menyetorkan bagian keuntungan bersih tahun 2025 kepada pemerintah pusat dan daerah senilai Rp4,8 triliun pada April 2026, sehingga akumulasi kontribusi perusahaan kepada negara mencapai Rp75 triliun sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Setoran tersebut mencakup pajak, royalti, serta dividen yang mengalir melalui PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID) ke Danantara dan kas negara. Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, merinci bahwa total Rp75 triliun tersebut sudah termasuk dividen untuk Pemerintah Indonesia sebesar Rp16,9 triliun.
Pemerintah daerah menerima total Rp13,48 triliun, yang terdiri dari pembayaran tahun 2025 sebesar Rp10,6 triliun dan tambahan pembagian keuntungan bersih Rp2,88 triliun. Khusus untuk tambahan Rp4,8 triliun, pemerintah pusat mendapat Rp1,92 triliun, Provinsi Papua Tengah Rp720,5 miliar, dan Kabupaten Mimika Rp1,2 triliun.
"Perusahaan senantiasa mengedepankan transparansi dan akuntabilitas dalam menjalankan kewajibannya kepada negara dan daerah dengan harapan agar dapat dimanfaatkan untuk sebesarbesarnya kepentingan rakyat di daerah masing-masing," ujar Tony Wenas, Presiden Direktur PTFI.
Tujuh kabupaten lain di Papua Tengah, yakni Nabire, Paniai, Puncak, Puncak Jaya, Dogiyai, Deiyai, dan Intan Jaya, juga masing-masing menerima Rp137,2 miliar. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menilai nilai kontribusi ini sangat signifikan bagi penerimaan negara.
"(Nilai) 75 triliun itu besar. Termasuk paling besar lah di antara (BUMN) yang lain. Karena kan nilai daripada ekspornya kan juga besar sekali dari hasil tabang mereka," ujar Tauhid Ahmad, Ekonom INDEF.
Tauhid menambahkan bahwa hasil tambang menjadi primadona di tengah krisis energi global dan ketidakpastian pasar minyak dunia. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga komoditas seperti emas dan batu bara yang berpotensi meningkatkan setoran negara di masa depan.
"Nah di tengah situasi ini. Krisis energinya, krisis minyak. Hasil tambang jadi primadona. Jadi kenapa misalnya ketika harga minyak naik. Orang akan mencari alternatif ke batu bara," ungkap Tauhid Ahmad, Ekonom INDEF.
Kenaikan harga pasar global diprediksi akan mendongkrak nilai setoran meskipun tarif royalti tidak mengalami perubahan. Tauhid menekankan bahwa situasi krisis biasanya diikuti dengan penguatan harga emas di pasar internasional.
"Ketika dolar, katakanlah di tengah situasi krisis ini, harga emas ada yang sebagian besar ikut naik," imbuh Tauhid Ahmad, Ekonom INDEF.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·