Jadi intinya...
- Drama musikal "Mar" kembali dipentaskan dengan peningkatan teknis visual yang signifikan.
- Pementasan ini memadukan romansa dan patriotisme berlatar peristiwa Bandung Lautan Api.
- Misi utamanya adalah memperkenalkan sejarah dan identitas bangsa kepada generasi muda.
Liputan6.com, Jakarta - Kembali menghidupkan drama musikal "Mar" menjadi tantangan tersendiri bagi Gabriel Harvianto, yang didapuk sebagai Sersan Marzuki. Apalagi, pementasan kali ini mengalami peningkatan pada aspek teknis, agar para penonton merasakan pengalaman visual yang berbeda
Pementasan "Mar" sendiri memadukan romansa dan patriotisme melalui drama musikal "Mar". Pertunjukan yang mengambil latar peristiwa sejarah Bandung Lautan Api ini akan berlangsung pada 15-17 Mei 2026 di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan.
"Tantangan terbesar buat kami tentunya mempertahankan apa yang sudah dilakukan pada tahun kemarin dengan respons yang sangat baik sekali dari penonton, dari teman-teman. Bagaimana caranya kami mempertahankan nilai itu," kata Gabriel Harvianto di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, Kamis (14/5/2026).
"Lalu yang kedua karena ada pergantian sutradara, pergantian set panggung yang dulu kita flat mainnya, sekarang kan kalau teman-teman lihat rotator gitu, berputar. Itu pastinya banyak penyesuaian yang dilakukan dari sutradara, dari koreografer untuk blocking segala macam," Gabriel menyambung.
Misi Mulia di Balik Drama Musikal Mar
Selain kemegahan panggung, pertunjukan ini membawa misi mulia untuk memperkenalkan identitas bangsa kepada generasi muda. Penyelenggara menyadari bahwa tantangan terbesar pementasan bertema sejarah adalah cara mengemas narasi agar tetap relevan dan menarik bagi anak muda zaman sekarang.
"Cerita ini kan berlatar belakang sejarah Bandung Lautan Api tahun 1946. Di mana sejarah ini mungkin generasi sekarang tuh tidak tahu, belum tahu, atau tidak pernah tahu. Tantangan dari kami semua bagaimana caranya membungkus ini semua cerita musikal ini dengan latar belakang sejarah semenarik mungkin," ungkap Gabriel.
Suasana Tahun 1940-an
Detail estetik pementasan juga semakin kuat dengan kehadiran busana autentik era 1940-an yang digarap oleh desainer Retno Damayanti. Galabby Thahira yang memerankan tokoh Aryati memuji keahlian sang perancang dalam menghidupkan nuansa masa lalu melalui pakaian para pemain.
"Oh iya, ini kita semua dari Mbak Retno Damayanti. Mbak No itu memang selalu jadi jargon di ArtSwara. Jadi memang kayak kalau sudah berhubungan sama Indonesia, berbudaya, Mbak No sudah nomor satu di situ," kata Galabby.
Ia meneruskan, "Memang kita juga suka ini perpaduan 1940 juga, kita tidak ada perhiasan sama sekali, terus baju-baju prajurit semuanya itu semua Mbak No dan kita juga suka banget timnya Mbak No. Kostumnya juga lucu," tutur Galabby.
Lega dan Emosional
Perasaan lega menyelimuti seluruh kru dan pemain mengingat latihan panjang yang melelahkan membuahkan hasil yang manis. Gabriel menceritakan momen emosional saat pertunjukan gladi resik mereka disaksikan langsung para veteran yang menjadi saksi sejarah masa perjuangan.
"Sangat terharu apalagi reaksi-reaksi mereka juga ternyata kami merasa apa yang kami sampaikan tadi kena di mereka, sampai di mereka. Jadi saya rasa kayak puji Tuhan ya, semuanya bisa lancar," pungkas Gabriel.
Saksikan Kisah Nyata Siang di Indosiar, Sabtu 16 Mei Pukul 12.00 WIB
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·