Garda Revolusi Iran Tangkap Empat Terduga Mata&Mata Mossad di Gilan

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan penangkapan empat orang yang diduga kuat sebagai agen badan intelijen Israel, Mossad, di Provinsi Gilan pada Kamis (16/4/2026). Operasi penangkapan di wilayah utara Iran ini dilakukan di tengah periode gencatan senjata sementara dalam konflik bersenjata melawan Amerika Serikat dan Israel.

Keempat tersangka dituduh melakukan spionase dengan cara mengirimkan data sensitif mengenai instalasi keamanan negara kepada pihak asing. Berdasarkan laporan dari IRNA yang dilansir dari Detikcom, para tahanan tersebut diduga memanfaatkan jaringan internet untuk mengirimkan dokumentasi visual lokasi-lokasi militer yang krusial.

"Para tersangka telah memberikan foto-foto dan lokasi beberapa situs militer dan keamanan yang sensitif dan penting kepada agen intelijen Mossad melalui internet," ujar perwakilan IRGC dalam pernyataan resminya. Meskipun identitas para tersangka belum dirilis, pihak berwenang telah menyerahkan berkas perkara mereka kepada otoritas kehakiman Iran.

Penangkapan ini berlangsung saat situasi diplomatik di kawasan tersebut masih belum stabil. Sebelumnya, perundingan damai antara pejabat Amerika Serikat dan Iran yang difasilitasi di Pakistan pada Sabtu (11/4) berakhir tanpa mencapai kesepakatan formal.

Frekuensi penangkapan terkait dugaan kerja sama dengan intelijen Israel dilaporkan terus meningkat sejak eskalasi perang 12 hari yang melibatkan pengeboman fasilitas nuklir Iran oleh Amerika Serikat. Teheran merespons kondisi ini dengan mempercepat proses persidangan bagi para terduga kolaborator.

Sejak Oktober tahun lalu, Pemerintah Iran telah memperketat regulasi melalui undang-undang baru yang menargetkan aktivitas spionase untuk Israel dan Amerika Serikat. Aturan tersebut menetapkan ancaman hukuman mati serta penyitaan seluruh aset kekayaan bagi mereka yang terbukti bersalah di pengadilan.

Selama bertahun-tahun, Teheran secara konsisten menuduh Tel Aviv berada di balik serangkaian operasi sabotase pada fasilitas nuklir serta pembunuhan sejumlah ilmuwan nuklir Iran. Langkah hukum terbaru ini menandai perubahan kebijakan dari regulasi sebelumnya yang tidak secara spesifik menyebutkan negara tertentu dalam kasus mata-mata.