BALAI Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menyatakan, Gunung Merapi mengeluarkan sedikitnya tiga kali awan panas selama sepekan, dari 8 hingga 14 Mei 2026. "Aktivitas erupsi efusif awan panas itu seluruhnya mengarah ke hulu Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter," kata Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso, Jumat, 15 Mei 2026.
Budi menyatakan status aktivitas gunung api aktif ini masih tetap dipertahankan pada tingkat Siaga atau Level III karena suplai magma yang terus berlangsung dari dalam tubuh gunung.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Agus menjelaskan, fenomena awan panas ini menjadi salah satu fokus utama dalam potensi bahaya saat ini selain adanya guguran lava intens nyaris setiap hari. "Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya," ujar Agus.
BPPTKG juga mencatat adanya perubahan signifikan pada kondisi termal dan morfologi kubah lava Gunung Merapi berdasarkan hasil pemantauan terbaru periode 8-14 Mei 2026. Data yang diperoleh melalui survei udara menggunakan drone pada 7 Mei menunjukkan peningkatan aktivitas panas yang terpusat di kubah lava sektor barat daya.
Suhu pada kubah barat daya tercatat mencapai 243 derajat Celcius. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 24,4 derajat celcius dibandingkan dengan pengukuran pada periode sebelumnya. Berbanding terbalik dengan kondisi tersebut, suhu pada kubah tengah justru mengalami penurunan sebesar 4,9 derajat Celcius sehingga kini berada di angka 213,7 derajat Celcius.
Selain aspek suhu, analisis foto udara menunjukkan adanya perubahan volume pada struktur kubah. Volume kubah barat daya tercatat berkurang sekitar 10.800 meter kubik menjadi sebesar 4.026.700 meter kubik akibat aktivitas guguran yang terus terjadi.
Sementara itu, kubah tengah Merapi dilaporkan masih dalam kondisi stabil dengan volume tetap sebesar 2.368.800 meter kubik. "Perubahan pada kubah lava ini sangat berkaitan dengan potensi bahaya erupsi efusif yang masih tinggi," kata Agus.
Guguran lava dari material kubah yang tidak stabil teramati terjadi sebanyak puluhan kali ke berbagai hulu sungai, dengan intensitas terbanyak ke arah hulu Kali Krasak sebanyak 67 kali selama sepekan. Selama periode ini, jaringan seismik juga mencatat adanya tiga kali gempa awan panas guguran yang menyertai aktivitas kegempaan lainnya seperti gempa vulkanik dangkal sebanyak 43 kali dan gempa guguran mencapai 768 kali.
Agus menekankan pentingnya kewaspadaan ekstra bagi warga yang tinggal di sekitar lereng Merapi, terutama saat kondisi cuaca ekstrem. BPPTKG menginstruksikan agar tidak ada aktivitas manusia dalam bentuk apa pun di daerah yang telah ditetapkan sebagai zona potensi bahaya untuk menghindari risiko korban jiwa.
53 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·