PERDANA Menteri Latvia, Evika Silina, politikus dari partai konservatif liberal itu secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya. Keputusan itu diambil setelah salah satu oposisi mengancam akan melayangkan mosi tidak percaya di bawah kepemimpinannya.
Menurut laporan dari lembaga penyiaran publik Latvia, LSM, seperti dilansir Anadolu, Silina mengatakan telah menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Presiden Edgars Rinkevics. Dia menegaskan bahwa akan terus memimpin lembaga eksekutif hingga kabinet baru terbentuk.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Saya telah menyerahkan surat pengunduran diri ke Presiden Edgars Rinkevics, juga akan memimpin hingga kabinet baru terbentuk,” kata Silina.
Setelah resmi meninggalkan jabatannya, Rinkevics akan bertugas menunjuk pelaksana negara baru dan dijadwalkan bertemu dengan perwakilan partai-partai parlemen pada hari Jumat 15 Mei 2026. Padahal, hanya beberapa bulan lagi Latvia akan melangsungkan pemilihan umum pada Oktober tahun ini.
Kekacauan dalam koalisi ini terjadi setelah meningkatnya ketegangan politik setelah munculnya insiden keamanan terkait drone yang melintasi udara Latvia. Hal itu, kemudian menimbulkan interpretasi berbeda antarkoalisi di tubuh pemerintahan.
Pengunduran PM Latvia sejak 2023, itu terjadi beberapa hari setelah Menteri Pertahanan Latvia, Andris Spruds, dari partai Progresif, dipaksa mundur akibat gagal dalam menjaga zona udara bebas dari ancaman eksternal. Silina meyebutkan, Menhan, telah kehilangan kepercayaan publik karena membiarkan drone yang diduga milik Ukraina melintasi wilayah Latvia.
“Insiden drone itu jelas menunjukkan bahwa kepemimpinan politik sektor pertahanan gagal memenuhi janjinya untuk menciptakan langit yang aman di atas negara kita,” kata dia pada hari Minggu saat menjelaskan pengunduran diri Spruds, melansir Al Jazeera.
Sebelum insiden pengunduran diri kepala pemerintahan dan pejabat militer Latvia itu, pada Kamis 7 Mei 2026, ada dua drone yang diduga melintasi wilayah udara Latvia. Salah satu dari drone nyasar tersebut jatuh di fasilitas penyimpanan bahan bakar. Selain itu, beberapa drone milik Ukraina juga menghantam negara-negara Baltik sejak Maret.
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha menawarkan opsi bantuan kepada negara-negara Baltik dan Finlandia untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa di masa mendatang. Andri mengatakan pada hari Minggu tragedi itu “Akibat perang elektronik Rusia yang sengaja mengalihkan drone Ukraina dari targetnya di Rusia.”
46 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·