Depok (ANTARA) - Guru Besar Tetap di bidang Ilmu Fasial Plastik Rekonstruksi, Telinga Hidung Tenggorok, serta Bedah Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof.Trimartani Koento menyoroti tantangan besar penanganan mikrotia.
Mikrotia merupakan suatu kelainan bawaan pada telinga yang tidak hanya berdampak pada fungsi pendengaran, tetapi juga perkembangan bahasa, komunikasi, dan psikososial anak.
“Penanganan mikrotia bukan hanya tentang membentuk telinga, tetapi tentang membangun masa depan anak. Dengan intervensi yang tepat dan dukungan komprehensif, anak dapat tumbuh percaya diri, mandiri, dan berpartisipasi aktif dalam masyarakat,” kata Prof.Trimartani Koento dalam keterangannya, Sabtu.
Mikrotia sendiri merupakan kelainan bawaan yang ditandai dengan daun telinga yang tidak berkembang sempurna, yang sering disertai adanya gangguan pendengaran. Kondisi ini terjadi
pada sekitar 1 dari 7.000–8.000 kelahiran hidup di Asia, termasuk Indonesia.
Baca juga: Anak dengan mikrotia perlu diberi pemahaman sebelum jalani operasi
Menurut dia sebagian besar kasus bersifat unilateral (mendera satu sisi telinga saja), namun tetap berdampak signifikan. Gangguan pendengaran yang menyertai dapat menghambat perkembangan bahasa sejak usia dini, memengaruhi kemampuan belajar, interaksi sosial, hingga menurunkan rasa percaya diri anak.
Selain itu, mikrotia sering berkaitan dengan kelainan lain seperti mikrosomia hemifasial atau sindrom kongenital (Treacher Collins, Goldenhar, dan Down syndrome). Kompleksitas ini
menuntut penanganan yang komprehensif, mencakup aspek medis, estetika, psikologis, dan sosial.
Prof. Trimartani menekankan bahwa pendekatan modern kini mengintegrasikan teknologi morfometri dan fotometri digital tiga dimensi.
Baca juga: Orang tua perlu kesiapan psikologis untuk hadapi anak dengan mikrotia
Dengan pemindaian 3D, perencanaan operasi dapat dilakukan lebih presisi, menghasilkan telinga baru yang simetris dan sesuai karakteristik wajah pasien. Rekonstruksi tidak lagi sekadar estetika, melainkan juga pemulihan fungsi pendengaran dan peningkatan kualitas hidup.
Di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, pelayanan mikrotia dilakukan melalui kolaborasi multidisiplin yang kuat, dengan melibatkan bidang Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala
Leher (THT-BKL), audiologi, kesehatan anak, psikologi, hingga rehabilitasi medik.
Dukungan keluarga dan lingkungan juga menjadi faktor krusial dalam membangun rasa percaya diri anak.
Prof. Trimartani menegaskan pentingnya peran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam memastikan akses layanan yang inklusif dan berkeadilan.
Baca juga: Guru Besar FKUI: Penanganan epilepsi masih hadapi tantangan besar
Pewarta: Feru Lantara
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·