Guru Besar UNEJ: Indonesia punya modal kuat jadi pemimpin Global South

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Jember (UNEJ) Agus Trihartono menilai Indonesia memiliki hampir semua syarat untuk menjadi penghubung dan sebagian syarat untuk menjadi pemimpin dalam memperjuangkan kepentingan Global South.

"Indonesia sesungguhnya memiliki hampir semua syarat untuk menjadi penghubung dan sebagian syarat untuk menjadi pemimpin dalam memperjuangkan kepentingan Global South," kata Agus saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.

Dia berpendapat bahwa sebagai negara demokrasi besar, kekuatan ekonomi utama di Asia Tenggara, anggota ASEAN dan G20, serta mitra penting dalam berbagai forum Selatan-Selatan, Indonesia memiliki posisi strategis yang tidak dimiliki banyak negara lain.

"Kita bisa berbicara dengan banyak pihak: Washington, Beijing, Riyadh, New Delhi, Pretoria, dan lainnya tanpa sepenuhnya terikat pada blok tertentu. Secara historis, inilah kekuatan diplomasi Indonesia sejak Konferensi Asia-Afrika (KAA) Bandung: menjembatani, bukan membelah; mempertemukan, bukan sekadar mengikuti," katanya.

Menurutnya, Indonesia sudah cukup berhasil menjadi penghubung di kancah internasional. Politik luar negeri bebas aktif dinilai telah memberikan ruang gerak yang fleksibel sekaligus meningkatkan penghormatan dari berbagai pihak.

Namun demikian, untuk menjadi pemimpin global, diperlukan penguatan lebih lanjut yang tidak hanya dari sisi posisi strategis, tetapi juga melalui visi yang jelas, konsistensi kebijakan, serta keberanian mengusulkan agenda baru.

"Jika Indonesia ingin menjadi pemimpin, maka bukan hanya menjadi negara yang pandai menyesuaikan diri dengan arus besar, melainkan yang mampu menjaga arah ketika arus berubah," katanya.

Dia menilai bahwa jika Indonesia ingin semakin memperkuat peran kepemimpinannya di Global South, maka terdapat tiga agenda utama yang dapat didorong.

Pertama, mendorong reformasi tata kelola utang internasional yang lebih adil.

Kedua, memperjuangkan industrialisasi hijau agar negara berkembang tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pelaku utama dalam rantai nilai global.

"Ketiga, menjadi suara moral bagi multilateralisme yang lebih setara dan inklusif," kata Agus.

Baca juga: Pengamat: Indonesia perkuat diplomasi global lewat warisan KAA

Pewarta: Asri Mayang Sari
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.