Washington (ANTARA) - Kementerian Luar Negeri Iran pada Selasa mengecam penyitaan terbaru oleh pasukan Amerika Serikat terhadap sebuah kapal kargo yang diduga mencoba menghindari blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
“Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran dengan tegas mengutuk tindakan melanggar hukum dan kekerasan yang dilakukan ‘tentara teroris’ AS dalam menyerang kapal dagang Iran ‘Touska,’ yang terjadi pada Minggu (19/4),” kata kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan.
Menyebut insiden itu sebagai “bentuk pembajakan maritim dan tindakan terorisme, pernyataan tersebut mengatakan bahwa tindakan itu melanggar hukum internasional, serta melanggar gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran yang dimulai pada 8 April.
Iran juga menuntut pembebasan kapal berbendera Iran itu, beserta awak kapal dan keluarga mereka.
“Tanpa ragu, Republik Islam Iran akan menggunakan seluruh kapasitasnya untuk membela kepentingan nasional dan keamanannya, serta menjaga hak dan martabat rakyat Iran,” tambahnya, serta menegaskan bahwa tanggung jawab atas “eskalasi lebih lanjut” berada pada pihak AS.
Sementara itu, Kepala Peradilan Iran, Gholam-Hossein Mohseni Ejei, menyatakan bahwa tindakan AS tersebut merupakan “kejahatan perang,” dengan merujuk pada blokade yang sedang berlangsung terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
“Setiap tindakan terhadap kapal Iran pasti akan mendapat respons,” demikian laporan media pemerintah IRIB yang mengutip pernyataan Ejei, seraya menambahkan bahwa dimulainya kembali serangan AS-Israel terhadap Iran “sama sekali bukan hal kecil.”
Adapun Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan pada Minggu (19/4) bahwa pasukan angkatan laut AS menyita kapal kargo berbendera Iran, Touska, di Teluk Oman setelah kapal tersebut dilaporkan menolak mematuhi arahan blokade.
CENTCOM pada hari Senin (20/4) juga menyatakan bahwa pasukan Amerika telah mengarahkan 27 kapal komersial untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan Iran sejak blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dimulai pada 13 April.
Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari. Sebagai tanggapan, Teheran melakukan serangan balasan terhadap Israel dan negara-negara lain di kawasan yang menjadi tuan rumah aset-aset AS.
Pakistan menjadi tuan rumah pembicaraan AS-Iran pada 11-12 April setelah memediasi gencatan senjata selama dua pekan yang mulai berlaku pada 8 April dan dijadwalkan berakhir pada hari Rabu.
Upaya untuk menyelenggarakan putaran negosiasi berikutnya masih berlangsung, meskipun ketidakpastian tetap ada.
Sumber: Anadolu
Baca juga: China kecam tindakan AS menyita kapal kargo Iran
Baca juga: Iran tuntut AS bebaskan kapal dagang Touska beserta awaknya
Baca juga: IMO imbau kapal-kapal di dekat Selat Hormuz untuk ekstra waspada
Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·