Berlin (ANTARA) - Maskapai asal Jerman, Lufthansa, Selasa (21/4) mengatakan bahwa pihaknya akan membatalkan 20.000 penerbangan jarak pendek hingga Oktober lantaran harga avtur melonjak.
Lufthansa tersebut menyatakan langkah itu diperkirakan akan menghemat sekitar 40.000 ton bahan bakar setelah harga avtur naik dua kali lipat menyusul pecahnya perang di Iran.
Dalam sebuah pernyataan, Lufthansa mengatakan penyesuaian jadwal tersebut akan mengurangi jumlah "penerbangan jarak pendek yang tidak menguntungkan" di seluruh jaringan grup itu.
Perusahaan tersebut menambahkan bahwa gelombang pertama pembatalan, yang berdampak pada 120 penerbangan per hari, mulai berlaku pada Senin (20/4) dan akan tetap berlaku hingga akhir Mei.
Keputusan ini menyusul pengumuman Lufthansa pada 16 April lalu bahwa pihaknya akan menarik secara permanen 27 pesawat operasional dari unit Lufthansa CityLine mulai 18 April.
Maskapai itu menyebut gangguan akibat aksi mogok dan melonjaknya biaya bahan bakar di tengah ketegangan di Timur Tengah sebagai alasan, saat berupaya membatasi kerugian lebih lanjut di maskapai yang merugi tersebut.
Langkah-langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran di Eropa terkait risiko pasokan bahan bakar yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah. Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) Fatih Birol memperingatkan pada Kamis (16/4) bahwa Eropa mungkin hanya memiliki persediaan bahan bakar jet untuk sekitar enam pekan jika gangguan pasokan saat ini terus berlanjut.
Pewarta: Xinhua
Editor: Michael Teguh Adiputra Siahaan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·