Aset kripto Bitcoin mengalami fluktuasi tajam hingga menyentuh level US$ 79.637,54 atau sekitar Rp 1,38 miliar pada perdagangan Jumat (8/5/2026). Pergerakan ini dipicu oleh meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah setelah Iran menolak proposal perdamaian dari Amerika Serikat.
Data perdagangan Coinmarketcap pada Sabtu (9/5/2026) menunjukkan harga mulai merangkak naik ke posisi US$ 80.358,81, sebagaimana dilansir dari Detik Finance. Meski ada pemulihan tipis, volatilitas tetap tinggi karena aksi jual masif pada aset berisiko yang dipicu oleh ketegangan politik global tersebut.
Secara fundamental, Bitcoin sebenarnya menunjukkan korelasi kuat dengan aset lain, yakni sebesar 76% dengan indeks S&P 500 dan 59% terhadap emas. Namun, sentimen negatif dari pasar derivatif memperparah koreksi harga melalui likuidasi posisi long yang mencapai US$ 97,53 juta dalam 24 jam terakhir.
"Penurunan Bitcoin ke area US$79.000 lebih disebabkan oleh lonjakan risiko geopolitik setelah Iran menolak proposal perdamaian dari Amerika Serikat. Ini memicu sentimen risk-off di pasar global, sehingga investor cenderung keluar sementara dari aset berisiko, termasuk kripto," ujar Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur.
Selain tekanan di pasar derivatif, dana kelolaan ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus keluar bersih (net outflow) senilai US$ 268,5 juta pada 8 Mei 2026. Hal ini membatalkan prediksi awal yang memperkirakan harga dapat menembus angka US$ 82.800 dalam waktu dekat.
"Aksi jual yang terjadi bukan hanya berasal dari pasar spot, tetapi juga diperparah oleh likuidasi di pasar derivatif. Ketika banyak posisi long menggunakan leverage tinggi, penurunan harga kecil saja bisa memicu likuidasi berantai dan mempercepat tekanan jual," jelas Fyqieh Fachrur.
Analisis teknikal menunjukkan bahwa zona antara US$ 78.500 hingga US$ 78.000 menjadi tumpuan krusial. Jika level ini gagal dipertahankan, harga berpotensi merosot lebih jauh menuju area US$ 76.300 atau setara Rp 1,32 miliar.
"Area US$ 78.500 sampai US$ 78.000 menjadi zona yang sangat krusial untuk Bitcoin dalam jangka pendek. Selama level ini bertahan, peluang rebound ke US$ 82.800 masih terbuka. Tetapi jika tembus ke bawah, pasar bisa melihat koreksi lanjutan ke area US$ 76.300," jelas Fyqieh Fachrur.
Di sisi lain, adopsi institusional masih menunjukkan tren positif dengan total aliran dana masuk ke ETF mencapai US$ 58,5 miliar sejak 2024. Data on-chain juga memperlihatkan adanya akumulasi sekitar 270.000 BTC oleh pemilik dompet besar (whale) dalam 30 hari terakhir.
Partisipasi perbankan besar seperti Morgan Stanley melalui MSBT juga menyumbang dana sekitar US$ 163 juta hanya dalam enam hari awal peluncuran. Hal ini didukung oleh cadangan Bitcoin di bursa yang berada di level terendah dalam tujuh tahun terakhir.
"Momentum bullish mulai terbentuk, likuiditas mulai kembali, namun pasar masih sangat bergantung pada kondisi makro dan geopolitik global," pungkas Fyqieh Fachrur.
Pasar kini menantikan kejelasan regulasi Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY) yang akan masuk tahap pemungutan suara di Senat AS pada Juni 2026 sebagai katalis penguatan selanjutnya.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·