Tren penurunan harga emas dunia terus berlanjut hingga memasuki pertengahan pekan ini. Dilansir dari Bloombergtechnoz, nilai sang logam mulia mencatatkan koreksi selama dua hari berturut-turut pada perdagangan terakhir.
Harga emas di pasar spot terkoreksi 0,38% dan ditutup pada posisi US$ 4.697/troy ons pada Rabu (13/5/2026). Angka ini menjadi titik terendah bagi komoditas emas sejak 7 Mei 2026 atau dalam kurun waktu hampir satu minggu.
Akumulasi penurunan selama dua hari terakhir tercatat telah memangkas nilai emas sebesar 0,82%. Kondisi ini dipicu oleh rilis data ekonomi dari Amerika Serikat (AS) yang memberikan tekanan signifikan terhadap pergerakan harga.
US Bureau of Labor Statistics melaporkan inflasi tingkat produsen di AS untuk periode April menyentuh angka 1,4% secara bulanan (mtm). Pencapaian ini merupakan yang tertinggi sejak Maret 2022 atau dalam empat tahun terakhir.
Angka inflasi tersebut melompat jauh dibandingkan realisasi Maret yang sebesar 0,7% mtm. Realisasi ini juga melampaui prediksi pasar yang sebelumnya memperkirakan inflasi hanya akan berada di level 0,5% mtm.
Secara tahunan (yoy), inflasi produsen di Negeri Paman Sam menembus 6% pada Maret, tertinggi sejak akhir tahun 2022. Capaian ini melampaui angka Maret sebelumnya yang sebesar 4,3% yoy serta ekspektasi pasar di level 4,9% yoy.
Tekanan inflasi yang tetap tinggi membuat investor meragukan potensi pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat. Terlebih, Senat AS telah menyetujui Kevin Warsh sebagai Gubernur Federal Reserve (The Fed) menggantikan Jerome “Jay” Powell.
Status Warsh yang dikenal dekat dengan Presiden Donald Trump memicu kekhawatiran pasar mengenai independensi bank sentral. Pelaku pasar menanti apakah The Fed mampu mengambil kebijakan tanpa tekanan politik, mengingat Trump menginginkan suku bunga rendah.
Emas sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset) cenderung kurang kompetitif di mata investor saat suku bunga belum mengalami penurunan. Kondisi inilah yang membebani daya tarik emas dalam beberapa hari terakhir.
Analisis Teknikal dan Prediksi Harga
Melihat prospek pergerakan hari ini, Kamis (14/5/2026), emas secara teknikal harian masih berada di zona bullish. Hal ini dikonfirmasi oleh indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang bertengger di level 50.
Meskipun demikian, posisi RSI saat ini berada di ambang batas sehingga cenderung bersifat netral. Di sisi lain, indikator Stochastic RSI 14 hari telah menyentuh angka 81, yang mengindikasikan kondisi jenuh beli atau overbought.
Harga emas berpeluang mengalami kenaikan jika mampu bertahan di atas titik pivot US$ 4.710/troy ons. Jika tren menguat, harga berpotensi menguji level resisten di kisaran US$ 4.730 hingga US$ 4.786/troy ons.
Target kenaikan paling optimistis berada pada level US$ 4.921/troy ons. Namun, pelaku pasar perlu mewaspadai risiko koreksi lanjutan yang bisa membawa harga menuju area dukungan atau support terdekat.
Jika harga kembali melemah, level US$ 4.679/troy ons menjadi target support utama. Penembusan di bawah titik tersebut berisiko menyeret harga lebih dalam menuju rentang US$ 4.659 hingga US$ 4.610/troy ons.
Dalam skenario pergerakan paling pesimistis, level support terjauh emas diprediksi berada pada angka US$ 4.511/troy ons untuk perdagangan hari ini.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·