Harga emas di pasar spot melonjak tajam hampir 2 persen hingga menyentuh angka US$ 4.837,8 per troy ons pada penutupan perdagangan Selasa (14/4/2026). Kenaikan signifikan ini dipicu oleh rencana dialog diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran guna meredakan konflik militer.
Lonjakan harga tersebut tercatat sebagai level tertinggi sejak 17 Maret 2026. Sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz, sentimen positif muncul setelah adanya laporan mengenai kembalinya kedua negara ke meja perundingan menyusul kegagalan dialog di Islamabad, Pakistan pada akhir pekan sebelumnya.
"Pembicaraan akan berlanjut dalam dua hari ke depan," ujar Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait upaya penyelesaian konflik tersebut.
Kabar mengenai rencana perundingan ini berdampak langsung pada sektor energi dunia. Harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan jatuh hampir 5 persen ke level US$ 94,72 per barel pada Rabu (15/4/2026) pagi pukul 06:28 WIB.
Redanya ketegangan di Timur Tengah juga ditandai dengan langkah Iran yang mulai menunda pengiriman kapal di Selat Hormuz. Kondisi ini memberikan harapan bagi terkendalinya harga energi global serta menurunkan risiko inflasi tinggi di masa depan.
Pelaku pasar menilai tercapainya kesepakatan damai akan memberi ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga. Situasi ini menguntungkan bagi emas yang merupakan aset tanpa imbal hasil.
Berdasarkan analisis teknikal harian, posisi emas saat ini berada di zona bullish dengan indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari di angka 55. Meskipun begitu, indikator Stochastic RSI telah menyentuh level 100 yang menunjukkan kondisi jenuh beli atau overbought.
Untuk perdagangan Rabu (15/4/2026), harga emas diprediksi berisiko mengalami koreksi dengan target support terdekat pada level US$ 4.756 per troy ons. Jika tren penguatan berlanjut, titik resisten terdekat berada di angka US$ 4.844 per troy ons.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·