Harga Energi Global Melonjak Picu Penyesuaian Tarif di Kawasan ASEAN

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Stabilitas ekonomi dan keamanan nasional berbagai negara kini terpengaruh oleh dinamika geopolitik global yang mengubah isu energi menjadi prioritas utama. Ketegangan politik dan gangguan rantai pasok memicu tren kenaikan harga energi global, mulai dari BBM, LPG, hingga LNG pada Mei 2026.

Kebutuhan utama masyarakat saat terjadi krisis akan difokuskan pada sektor pangan dan energi guna menjamin keberlangsungan hidup. Dilansir dari Money, kenaikan harga komoditas energi ini dinilai sebagai dampak non-fundamental dari meningkatnya tensi geopolitik dunia.

"Iya energi ini kan kebutuhan. Kalau tidak ada energi maka tidak ada kehidupan. Saat ada krisis maka paling utama diselamatkan ada dua; pertama kebutuhan pangan dan kedua energi. Jadi kalau ada ketegangan politik, dua hal itu diamankan," ungkap Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif Rofirminer Institute.

Gangguan pada jalur distribusi global, seperti penutupan Selat Hormuz, menjadi perhatian serius konsumen yang mendorong harga minyak melampaui angka seharusnya. Lonjakan harga minyak mentah tersebut secara otomatis menyeret kenaikan harga produk berbasis gas.

"Ini yang menjadi perhatian pengguna dan konsumen sehingga harga minyak menjadi tinggi dari seharusnya," ujar Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif Rofirminer Institute.

Produk energi seperti LPG dan LNG mengalami kenaikan karena indeks harganya merujuk langsung pada pergerakan harga minyak mentah dunia. Hal ini berdampak langsung pada biaya pengadaan energi di tingkat industri dan retail.

"Harga LPG dan LNG di indeks-kan ke harga minyak mentah jadi dia pasti ikut naik," kata Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif Rofirminer Institute.

Di pasar domestik, harga LPG non-subsidi 50 kilogram melonjak sekitar 25 persen menjadi Rp 1,068 juta per tabung pada Mei 2026. Penyesuaian signifikan juga menimpa solar industri yang harganya naik hingga kisaran Rp 26.000 hingga Rp 27.900 per liter.

Negara-negara di Asia Tenggara seperti Vietnam, Filipina, dan Singapura turut mengubah strategi untuk menghadapi volatilitas pasar. Sebagai contoh, harga gas sektor retail di Singapura telah menyentuh angka 47,54 dollar AS per MMBtu.

"Faktor non-fundamental ini sulit diprediksi akan sampai kapan dan berakhirnya seperti apa," imbuh Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif Rofirminer Institute.

Data Japan Customs-Cleared Crude (JCC) dan Japan Korea Marker (JKM) menunjukkan lonjakan masing-masing sebesar 97 persen dan 111 persen sepanjang 2026. Kenaikan acuan internasional ini menyebabkan Indonesian Crude Price (ICP) ikut terkerek hingga 99 persen dari rencana awal tahun.

"Memang harga LNG akan dikaitkan dengan harga minyak mentah. Kalau harga minyak tinggi maka harga LNG juga tinggi. Dan sebelumnya pernah lebih tinggi. Ini terjadi secara global, bukan hanya di Indonesia saja," ujar Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif Rofirminer Institute.

Penyesuaian harga di dalam negeri, khususnya untuk sektor non-subsidi seperti LNG, dianggap sebagai langkah krusial untuk menjaga kesehatan ekonomi domestik. Kebijakan ini diambil demi memastikan keberlanjutan ekosistem energi nasional di tengah tekanan pasar global.