Pemerintah Targetkan Ekonomi Semester II 2026 Tumbuh di Atas 5,5 Persen

Sedang Trending 55 menit yang lalu

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional mampu melampaui angka 5,5 persen pada semester II 2026 di Jakarta, Selasa (12/5/2026). Optimisme ini muncul setelah realisasi Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen secara tahunan.

Target pencapaian tersebut akan didorong melalui pemberian stimulus pada sektor riil, termasuk rencana peluncuran insentif kendaraan listrik (EV) yang dijadwalkan mulai Juni 2026. Pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp5 juta per unit untuk 100 ribu sepeda motor listrik dan insentif PPN DTP bagi 100 ribu unit mobil listrik.

“(Kuartal) III dan IV akan di atas 5,5 persen. Saya mendorong ke arah 6 persen kan,” kata Purbaya, Menteri Keuangan.

Bendahara negara juga berencana memfasilitasi akses pembiayaan yang lebih murah bagi pelaku usaha orientasi ekspor melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Selain itu, koordinasi dengan perbankan di bawah naungan Danantara akan diperkuat guna memastikan penyaluran kredit ke sektor produktif tetap berjalan optimal.

“Saya akan panggil rapat lagi dalam waktu dekat, supaya mereka punya akses ke pendanaan yang lebih bagus dan lebih murah. Saya bisa masuk lewat Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Di situ uangnya juga banyak, sebagian nganggur selama ini ternyata,” jelas Purbaya.

Menkeu menegaskan bahwa strategi pemerintah saat ini berfokus pada penggerak sektor finansial agar kontribusinya terasa langsung pada pertumbuhan ekonomi nasional.

“Apalagi kan sekarang banknya punya Danantara. Satu komando, kan? Kalau diperlukan, kami usulkan kebijakan ke arah sana. Tapi, bukan itu saja. Yang saya kerjakan adalah bukan saya paksa banknya pinjam, tapi saya akan pastikan invisible hand bekerja di sektor finansial,” tuturnya.

Meskipun pemerintah optimis, Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro memberikan proyeksi yang lebih moderat yakni sebesar 5,18 persen untuk keseluruhan tahun 2026. Menurutnya, ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed dan risiko geopolitik global tetap menjadi faktor penentu volatilitas pasar.

“Jadi kalau kita lihat dari guidance tahun 2026 itu, guidance-nya The Fed masih ada ruang untuk kemudian pemangkasan satu kali suku bunga acuan di tahun 2026 ini. Namun kalau lihat dari FOMC FedWatch, CME FedWatch, bahkan diperkirakan atau market memperkirakan bahwa tidak ada lagi pemangkasan suku bunga acuan,” ujar Andry, Ekonom Bank Mandiri.

Andry menambahkan bahwa pergerakan ekonomi dunia masih dibayangi oleh kebijakan perdagangan Amerika Serikat dan ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada nilai tukar rupiah.

“Nah ini adalah hal-hal yang kemudian memang perlu kita antisipasi,” kata Andry.

Risiko ekonomi global ini dinilai dapat memicu perlambatan yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir sebelum diprediksi mulai pulih pada 2027 mendatang.

“Dari sisi volatilitas dan faktor penentunya yaitu faktor dari market wide-nya itu sendiri ada geopolitical risk dan juga economic risk, bagaimana kalau kita lihat geopolitical risk-nya, ada agresif US foreign policies, pengenaan tarif, walaupun sudah ditolak oleh Mahkamah Agung, namun Trump masih tetap untuk kemudian menerapkan tarif tersebut,” ungkap Andry.

Di sisi lain, laporan dari The Conversation menyoroti bahwa pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal I 2026 sangat dipengaruhi oleh efek basis rendah tahun sebelumnya dan lonjakan konsumsi musiman selama periode hari raya. Analisis tersebut mencatat adanya tantangan pada sektor ketenagakerjaan di mana proporsi pekerja informal meningkat menjadi 59,42 persen pada Februari 2026.