Harga Minyak dan Emas Global Berpotensi Volatil Pekan Depan

Sedang Trending 5 jam yang lalu
ARTICLE AD BOX

Harga minyak mentah dan emas di pasar global diperkirakan akan menunjukkan pergerakan yang sangat volatil pada pekan mendatang, sebagai respons terhadap kegagalan perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi ini diprediksi akan menciptakan rentang pergerakan harga yang cukup lebar untuk kedua komoditas penting tersebut.

Menurut analisis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, secara teknikal, level support untuk harga minyak diperkirakan berada di angka 78,7 dollar AS per barel, sementara level resistance tertinggi berpotensi mencapai 107,9 dollar AS per barel.

"Untuk oil sendiri, kemungkinan besar ditransaksikan dalam minggu depan itu di 78,7 dollar per barrel, itu support-nya. Kemudian resistance itu di 107,9 dollar AS per barrel," kata Ibrahim kepada wartawan Minggu (13/4/2026), dilansir dari Money.

Pada perdagangan Jumat (10/4/2026) lalu, harga minyak dunia sempat melemah di bawah level 100 dollar AS per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei tercatat turun 1,5 persen, mencapai 96,37 dollar AS per barel, setelah sebelumnya menembus 100 dollar AS di awal sesi perdagangan.

Sementara itu, minyak mentah acuan global jenis Brent untuk pengiriman Juni turut melemah 1,3 persen, berada di posisi 94,69 dollar AS per barel. Fluktuasi ini dipandang Ibrahim sangat bergantung pada hasil negosiasi antara AS dan Iran.

Apabila gencatan senjata yang diupayakan dapat efektif dan diperpanjang, distribusi energi berpeluang kembali normal, sehingga harga minyak mungkin cenderung menurun. Namun, jika negosiasi gagal dan konflik kembali memanas, risiko gangguan pasokan akan meningkat signifikan.

Situasi ini dapat menyebabkan penutupan atau pembatasan jalur Selat Hormuz, yang berpotensi memicu lonjakan harga minyak secara drastis dan berdampak pada inflasi global. Ibrahim menyoroti kemungkinan "perang terbuka kembali" jika gencatan senjata tidak diperpanjang, setelah periode konsolidasi antara AS, Israel, dan Iran.

Kondisi pasar energi yang tidak stabil ini juga akan memengaruhi kebijakan bank sentral dunia. Jika inflasi melonjak akibat kenaikan harga energi, bank sentral global kemungkinan besar akan mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga acuan untuk mengendalikan tekanan inflasi.

Di sisi lain, harga emas dunia juga diperkirakan bergerak fluktuatif pada pekan depan. Apabila terjadi koreksi, harga emas berpotensi turun ke level support awal di 4.638 dollar AS per troy ounce, dengan harga logam mulia sekitar Rp 2.840.000 per gram.

Dalam skenario penurunan yang berlanjut selama seminggu, harga emas bisa melemah hingga 4.358 dollar AS per troy ounce, yang berpotensi menurunkan harga logam mulia hingga kisaran Rp 2.780.000 per gram.

Sebaliknya, jika harga menguat, emas berpeluang naik ke level resistance di 4.897 dollar AS per troy ounce, dengan perkiraan harga logam mulia meningkat ke sekitar Rp 2.880.000 per gram. Ibrahim menjelaskan bahwa harga emas sangat dipengaruhi oleh arah suku bunga global dan eskalasi konflik geopolitik.

Jika tekanan inflasi mereda dan bank sentral, terutama The Fed, mulai menurunkan suku bunga, harga emas cenderung menguat. Namun, jika konflik meningkat menjadi perang terbuka, harga emas juga berpotensi naik tajam sebagai aset lindung nilai, bersamaan dengan kenaikan harga minyak dan penguatan dollar AS.

Selain faktor Timur Tengah, ketegangan antara Amerika Serikat dan China terkait dugaan pengiriman persenjataan ke Iran juga turut menambah tekanan terhadap pasar global. Konflik geopolitik yang meluas berpotensi memperkuat permintaan terhadap aset safe haven.

Dari perspektif domestik, nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tren pelemahan dan berpotensi bertahan di atas level Rp 17.000 per dollar AS. Kondisi pelemahan rupiah ini juga menjadi salah satu faktor pendorong kenaikan harga logam mulia di dalam negeri.