Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Keraguan Perundingan Damai AS&Iran

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Harga minyak mentah global mengalami lonjakan signifikan pada penutupan perdagangan Kamis (16/4/2026) setelah pasar meragukan efektivitas perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran dalam memulihkan stabilitas pasokan energi. Dilansir dari Money, kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran berkelanjutan terhadap gangguan lalu lintas pengiriman minyak di kawasan Timur Tengah.

Data perdagangan menunjukkan harga minyak mentah Brent melesat 4,46 dollar AS atau 4,7 persen hingga mencapai posisi 99,39 dollar AS per barrel. Di saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 3,40 dollar AS atau 3,7 persen ke level 94,69 dollar AS per barrel menurut laporan Reuters.

Eskalasi harga ini berakar dari konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah mengganggu jalur distribusi gas dan minyak bumi paling krusial di dunia. Selat Hormuz, yang menjadi titik penyumbatan utama, biasanya menampung sekitar 20 persen volume pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global setiap harinya.

Analis pasar minyak PVM, John Evans, menyoroti ketidakpastian yang menyelimuti upaya diplomasi di kawasan tersebut saat ini.

"Kami tetap skeptis bahwa perang ini bisa segera diselesaikan. Setiap ada kabar positif, selalu muncul kabar yang berlawanan," ujar John Evans.

Meskipun terdapat upaya dialog, perundingan antara Washington dan Teheran dilaporkan mengalami penurunan ekspektasi dari kesepakatan komprehensif menjadi sekadar kesepakatan sementara. Langkah ini diambil hanya untuk mencegah terjadinya ledakan konflik yang lebih besar di masa mendatang.

Analis dari TP ICAP, Scott Shelton, memaparkan bahwa kondisi di lapangan tidak menunjukkan perbaikan nyata pada kelancaran arus logistik laut.

"Saat ini memang tidak ada serangan bom, tetapi jumlah kapal yang bisa melintas di Selat tidak lebih baik dibanding saat sebelum blokade AS. Hal ini terus menguras cadangan global yang mulai terlihat di AS pekan ini," kata Scott Shelton.

Dampak dari hambatan pasokan tersebut kini mulai menekan cadangan bahan bakar internasional, khususnya untuk sektor penerbangan di wilayah Asia dan Afrika. ING memproyeksikan sekitar 13 juta barrel aliran minyak per hari terhenti akibat situasi di Selat Hormuz.

Di sisi kebijakan domestik Amerika Serikat, Menteri Keuangan Scott Bessent telah memberikan penegasan mengenai sikap tegas pemerintah terhadap ekspor energi dari negara-negara yang terlibat konflik.

Bessent memastikan bahwa otoritas Amerika Serikat tidak akan memperpanjang kebijakan keringanan sanksi bagi sebagian ekspor minyak yang berasal dari Iran maupun Rusia dalam waktu dekat.