HARGA minyak dunia mulai terkoreksi setelah sebelumnya melonjak tajam seiring memanasnya konflik di Timur Tengah. Pada perdagangan hari ini ini, harga minyak mentah West Texas Intermediate tercatat turun menjadi US$104,23 per barel, atau melemah 1,98 persen dibandingkan posisi sebelumnya.
Mengutip laporan Trading Economics, pelemahan ini dipicu oleh meredanya kekhawatiran pasar setelah Amerika Serikat berhasil menggagalkan serangan Iran dan mengawal dua kapal berbendera Amerika yang melintasi Selat Hormuz.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Pemerintah AS juga menyatakan telah “melindungi semua kapal komersial” dari ancaman drone dan perahu kecil yang dilaporkan dikerahkan oleh Teheran,” tulis Trading Economics dikutip pada Selasa, 5 Mei 2026.
Di sisi lain, Uni Emirat Arab melaporkan berhasil mencegat rudal Iran serta mengonfirmasi adanya kebakaran di terminal minyak Fujairah, salah satu infrastruktur penting dalam distribusi energi global.
Menurut laporan Trading Economics, perkembangan tersebut terjadi setelah Presiden Donald Trump menguraikan rencana untuk memulihkan jalur pengiriman melalui Selat Hormuz serta memberikan perlindungan bagi kapal-kapal yang sempat terjebak.
“Perkembangan ini terjadi setelah Presiden Trump menguraikan rencana untuk memulihkan pengiriman melalui Hormuz dan mendukung kapal-kapal yang terjebak, meskipun pemilik kapal tetap waspada mengingat risiko keamanan yang tinggi.”
Meski demikian, ketegangan di Selat Hormuz masih belum sepenuhnya mereda. Pasar menilai jalur tersebut berpotensi tetap terganggu hingga tercapai kesepakatan antara AS dan Iran. Hal ini membuat pelaku pasar tetap berhati-hati terhadap kemungkinan lonjakan harga energi ke depan.
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak ke level tertinggi sejak 2022. Kontrak berjangka minyak Brent crude oil bahkan sempat menembus US$ 120,94 per barel pada 30 April 2026, sebelum kembali turun ke kisaran US$ 113 per barel pada penutupan perdagangan hari yang sama.
Dari sisi fundamental, tekanan harga juga dipengaruhi oleh penurunan tajam stok minyak di AS serta lonjakan ekspor yang menembus lebih dari 6 juta barel per hari. Kondisi ini mencerminkan pasokan global yang semakin ketat di tengah gangguan distribusi energi.
Di dalam negeri, dinamika harga global turut tercermin pada kenaikan Indonesian Crude Price (ICP). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat ICP Maret 2026 mencapai US$ 102,26 per barel, menjadikannya level tertinggi dalam setahun terakhir dan jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar US$ 70 per barel.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·