Harga minyak mentah dunia tercatat mengalami pelemahan setelah sebelumnya sempat melonjak tajam. Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya harapan perdamaian di kawasan Timur Tengah menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengenai konflik Iran.
Dilansir dari Money, harga minyak mentah AS (West Texas Intermediate/WTI) untuk pengiriman Mei merosot 1,45 persen ke posisi 93,32 dollar AS per barrel pada Jumat (17/4/2026). Di saat yang sama, harga minyak Brent untuk pengiriman Juni juga melemah 1,11 persen menjadi 98,36 dollar AS per barrel.
Koreksi harga ini terjadi setelah reli signifikan pada perdagangan Kamis (16/4/2026). Kala itu, harga Brent melonjak 4,46 dollar AS atau 4,7 persen ke level 99,39 dollar AS per barrel, sementara WTI naik 3,40 dollar AS atau 3,7 persen menjadi 94,69 dollar AS per barrel.
Ketegangan antara AS-Israel terhadap Iran sebelumnya menjadi motor utama kenaikan harga akibat kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz. Namun, optimisme baru muncul setelah Trump menyatakan bahwa perang di Iran berjalan dengan baik dan konflik yang pecah sejak 28 Februari tersebut diharapkan segera berakhir.
Trump mengungkapkan adanya kemungkinan pertemuan antara AS dan Iran pada akhir pekan ini untuk melanjutkan putaran kedua negosiasi. Meskipun jadwal resmi belum ditetapkan, kabar ini memberikan sentimen positif bagi pasar energi yang semula mengkhawatirkan blokade jalur strategis.
"AS dan Iran mungkin akan bertemu pada akhir pekan untuk melanjutkan putaran kedua negosiasi," kata Donald Trump kepada wartawan pada Kamis (16/4/2026).
Selain itu, Trump mengumumkan melalui media sosial Truth Social bahwa Israel dan Lebanon telah menyetujui gencatan senjata selama 10 hari. Kesepakatan ini dipandang sebagai titik krusial dalam perundingan yang sempat menemui jalan buntu di Pakistan pekan lalu.
Upaya Diplomasi di Gedung Putih
Sebagai langkah lanjutan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun dilaporkan akan diundang ke Gedung Putih. Agenda ini disebut-sebut sebagai perundingan berarti pertama antara kedua negara tersebut sejak tahun 1983.
Departemen Luar Negeri AS menjelaskan bahwa kedua belah pihak sedang berupaya menciptakan kondisi perdamaian jangka panjang. Fokus utamanya mencakup pengakuan kedaulatan masing-masing, penguatan keamanan perbatasan, serta penanganan kelompok bersenjata non-negara di Lebanon.
Trump juga menaruh harapan agar pemerintah Lebanon dapat menangani Hizbullah, kelompok yang mendapat dukungan dari Iran. Perkembangan diplomasi ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran dapat diperpanjang hingga dua minggu ke depan.
Risiko Pengetatan Pasokan Fisik
Meskipun ada harapan damai, analis dari ING memberikan peringatan terkait kondisi pasar fisik yang masih sangat ketat. Selama aliran minyak melalui Selat Hormuz belum kembali ke kondisi normal, risiko ketidakpastian pasokan tetap membayangi pasar global.
"Pasar fisik semakin ketat setiap hari selama aliran minyak melalui Selat Hormuz belum dimulai kembali," tulis analis ING dalam catatannya.
ING memperkirakan sekitar 13 juta barel per hari pasokan minyak masih terganggu akibat hambatan navigasi tanker dan keterbatasan jalur pipa. Angka gangguan ini bisa membengkak jika AS memutuskan untuk melakukan blokade lebih lanjut terhadap wilayah tersebut.
Analis juga menekankan bahwa harga minyak dunia berpotensi melonjak kembali jika diplomasi menemui kegagalan. Jarak antara tuntutan kedua pihak yang masih lebar menjadi risiko utama yang bisa meruntuhkan perundingan damai dalam waktu dekat.
"Risiko kenaikan utama bagi pasar adalah jika perundingan damai antara AS dan Iran runtuh. Ini bukan skenario yang tidak realistis, mengingat perbedaan tuntutan kedua pihak masih cukup lebar," tulis ING.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·