HIMKI Dorong Diversifikasi Pasar Mebel Antisipasi Ketergantungan Ekspor

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, mendorong percepatan diversifikasi pasar ekspor mebel nasional guna mengurangi ketergantungan besar pada Amerika Serikat dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Langkah strategis ini diambil mengingat pasar Amerika Serikat saat ini menyerap sekitar 54 persen dari total ekspor mebel Indonesia, yang dinilai menimbulkan risiko besar bagi stabilitas industri domestik jika terjadi gangguan ekonomi global.

Berdasarkan data yang dilansir dari Money, ketergantungan tersebut membuat ekspor mebel rentan terhadap tekanan tarif perdagangan dan fluktuasi kebijakan di negara tujuan utama, meski Amerika Serikat tetap diakui sebagai pasar paling stabil dengan daya serap tinggi.

"Amerika itu menyerap sekitar 54 persen ekspor mebel. Ini artinya kita sudah berada dalam kondisi ketergantungan," ujar Abdul Sobur, Ketua Umum HIMKI, saat menjelaskan risiko konsentrasi pasar tersebut.

HIMKI kini memprioritaskan perluasan jangkauan ke wilayah Uni Eropa, Timur Tengah melalui negara-negara GCC, India, hingga kelompok negara BRICS sebagai langkah antisipasi jangka panjang bagi keberlangsungan industri.

Peluang kerja sama tarif nol persen ke Eropa melalui perjanjian IAU-CEPA menjadi salah satu celah yang akan dimaksimalkan, meskipun tantangan geopolitik masih menghambat penetrasi di kawasan Timur Tengah akibat penundaan sejumlah proyek.

Selain masalah pasar, industri mebel nasional tengah menghadapi tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga energi dan logistik, serta membanjirnya produk impor murah dari luar negeri yang mendominasi marketplace domestik.

Ketergantungan terhadap komponen impor seperti engsel, kunci, dan perangkat keras lainnya juga menjadi faktor beban tambahan yang mengurangi daya saing produk lokal dibandingkan barang berbahan non-kayu solid.

Sebagai solusi, HIMKI mengusulkan penataan ulang regulasi impor, termasuk pembatasan barang yang sudah bisa diproduksi di dalam negeri serta pemindahan pelabuhan masuk impor ke luar Pulau Jawa untuk menyeimbangkan biaya logistik.

Sektor ini memiliki potensi besar dengan serapan tenaga kerja mencapai 2,1 juta orang, di mana komoditas furnitur rumah tangga berbahan kayu solid dari wilayah Jepara dan Cirebon masih menjadi kekuatan utama ekspor nasional.