Sejumlah kapal tanker gas alam cair (LNG) terpaksa mengubah rute perjalanan menuju Selat Hormuz pada Minggu, 19 April 2026, menyusul peringatan penutupan jalur maritim oleh pihak Iran. Langkah ini diambil setelah para kapten kapal menerima instruksi mengenai penghentian lalu lintas di jalur perdagangan vital tersebut.
Berdasarkan laporan data pelacakan kapal yang dilansir dari Bloombergtechnoz, terdapat lima kapal tanker bermuatan kargo dari Qatar yang kini menghentikan pergerakan menuju pintu masuk barat selat. Kapal-kapal tersebut sebelumnya sempat tertahan di Teluk Persia selama lebih dari satu bulan sebelum akhirnya memutuskan untuk melambat atau kembali ke perairan asal.
Hambatan operasional ini berdampak signifikan pada distribusi energi mengingat Selat Hormuz merupakan jalur bagi sekitar seperlima pasokan LNG dunia. Ketegangan yang meningkat sejak akhir Februari telah mengakibatkan tidak adanya kapal LNG bermuatan yang berhasil keluar dari kawasan Teluk Persia.
Situasi di lapangan dilaporkan sempat mengalami kekacauan akibat adanya informasi yang simpang siur mengenai status jalur air tersebut. Seorang pemilik kapal di wilayah tersebut mengungkapkan bahwa terdapat laporan mengenai tindakan militer yang menyasar armada komersial di sekitar lokasi.
"sepenuhnya terbuka" ujar Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Pernyataan diplomatik tersebut disampaikan pada Jumat guna menegaskan status pelayaran komersial di tengah kekhawatiran global. Meski demikian, laporan dari operator lapangan justru menunjukkan kondisi yang kontras dengan klaim keterbukaan jalur tersebut.
Penutupan efektif pada jalur strategis ini telah memicu lonjakan harga gas di pasar internasional. Dampak krisis pasokan ini mulai dirasakan secara nyata oleh sejumlah negara berkembang di kawasan Asia yang sangat bergantung pada impor energi melalui Selat Hormuz.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·