Gangguan distribusi energi di kawasan Teluk Persia memicu lonjakan harga minyak global dan tekanan geopolitik baru antara Amerika Serikat dan China pada April 2026. Situasi pasokan yang kian menyempit ini menyebabkan ketidakpastian pasar energi dunia serta mengguncang kepercayaan sekutu Amerika Serikat.
Kondisi pasar saat ini berada dalam tekanan berat setelah jalur pelayaran di kawasan strategis terganggu. Dilansir dari Money, harga minyak acuan Dubai dan Oman sempat menembus angka di atas 160 dollar AS per barrel pada akhir Maret 2026 akibat kekhawatiran stabilitas suplai.
CEO Phillips 66 menyebut kondisi pasokan saat ini sudah berada dalam situasi yang “sangat ketat” akibat gangguan pelayaran.
Pergerakan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga diprediksi akan terus berfluktuasi pada kisaran 75 dollar AS hingga lebih dari 110 dollar AS per barrel sepanjang bulan ini. Selain faktor distribusi, kampanye militer Amerika Serikat di Iran turut memperkeruh dinamika politik internasional.
Kritik yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara Eropa dinilai memperlemah komitmen terhadap para sekutu. Trump mendorong Eropa untuk mengambil tindakan tegas di Selat Hormuz.
Eropa disebut Trump sebagai “macan kertas” dan mendorong negara-negara Eropa untuk membangun “keberanian yang selama ini tertunda”, pergi ke Selat Hormuz, dan “mengambil alihnya”.
Pakar dari Center for Strategic and International Studies, Henrietta Levin, berpendapat bahwa melemahnya posisi Amerika Serikat dapat menjadi peluang strategis bagi China untuk memperluas pengaruhnya di kancah global.
“China ingin agar mitra-mitra terpenting Amerika Serikat mempertanyakan apakah AS benar-benar akan hadir dalam jangka panjang, apakah AS akan benar-benar hadir ketika situasinya sulit,” kata Levin.
Levin menambahkan bahwa keraguan sekutu di Eropa memiliki korelasi langsung terhadap stabilitas keamanan di wilayah Asia.
“Komitmen AS terhadap sekutu di Eropa sangat berkaitan langsung dengan daya tangkal di Asia, sehingga situasinya menjadi lebih rentan,” ujarnya.
Sementara itu, analisis dari Brookings Institution menyoroti pergeseran fokus Amerika Serikat ke Timur Tengah yang memberikan ruang lebih bagi Beijing. China dilaporkan meningkatkan aktivitas di sekitar Scarborough Shoal, wilayah sengketa di Laut China Selatan.
Patricia Kim dari Brookings Institution menyatakan bahwa China kemungkinan besar tidak akan segera melakukan aksi militer ke Taiwan hanya karena perhatian AS sedang terbagi.
“China tidak mungkin bergerak terhadap Taiwan hanya karena Amerika Serikat sedang sibuk di tempat lain,” kata Kim.
Namun, keterlibatan intensif Amerika Serikat di Timur Tengah secara tidak langsung dapat membebani sumber daya dan perhatian Washington di wilayah lain.
“Gangguan fokus Amerika Serikat di Timur Tengah dapat memberi China ruang strategis tidak langsung dengan memperluas beban perhatian dan sumber daya Amerika,” ujarnya.
Menghadapi pertemuan tingkat tinggi dengan China, para analis menilai kedua negara masih berupaya menjaga stabilitas hubungan bilateral meski ketegangan di Taiwan masih membayangi.
“Kedua belah pihak tampaknya berkomitmen pada keberhasilan pertemuan puncak, memperpanjang gencatan perdagangan, dan menjaga stabilitas hubungan bilateral,” kata Patricia Kim.
Menjelang pertemuan yang dijadwalkan pada pertengahan Mei 2026 tersebut, Donald Trump menunjukkan sikap yang cenderung optimistis melalui pernyataan resminya.
“Presiden Xi akan memberi saya pelukan besar dan hangat ketika saya tiba di sana dalam beberapa minggu,” tulis Trump.
Trump menekankan pentingnya kerja sama antara kedua kekuatan besar dunia tersebut, meski tetap mengingatkan kemampuan militer negaranya.
“Kami bekerja sama dengan cerdas dan sangat baik! Bukankah itu lebih baik daripada berperang??? TAPI INGAT, kami sangat baik dalam berperang, jika memang harus,” tulisnya lagi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·