HNW: Perdamaian dunia tak akan terwujud tanpa keadilan seluruh bangsa

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Hidayat Nur Wahid (HNW) menegaskan bahwa perdamaian dunia tidak akan terwujud tanpa kemerdekaan dan keadilan bagi seluruh bangsa.

Hal itu disampaikannya saat membuka Forum Dialog Global dalam rangka Hari Peringatan Dialog Internasional Untuk Peradaban di Gedung Nusantara V, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu.

Dialog bertema "Memperkuat Iman dan Membangun Perdamaian: Menyelaraskan Peradaban Global dari Indonesia untuk Dunia" itu menjadi forum untuk memperkuat kolaborasi lintas bangsa dan agama dalam mewujudkan perdamaian dunia yang berkelanjutan.

HNW dikutip dari keterangan tertulisnya, mengapresiasi atas penyelenggaraan forum yang dinilainya sejalan dengan amanat konstitusi Indonesia, khususnya Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menegaskan komitmen bangsa Indonesia terhadap kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

"Tidak mungkin akan ada ketertiban dunia dan perdamaian yang sejati apabila yang terjadi justru represi dan penjajahan. Hanya akan ada perdamaian yang benar apabila di sana ada keadilan dan tidak ada lagi penjajahan," ujarnya.

Baca juga: HNW serukan umat Islam bersatu selamatkan Al Aqsha dari Israel

Ia menegaskan konstitusi Indonesia memberikan landasan kuat bagi bangsa Indonesia untuk terus mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa yang masih berada di bawah penjajahan.

"Keinginan untuk menghadirkan perdamaian dunia sesungguhnya merupakan pengejawantahan langsung dari konstitusi Indonesia. Amanat itu tertuang dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 dan menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mewujudkannya," katanya.

Selain itu, HNW juga menyoroti situasi di Palestina yang menurutnya menjadi salah satu tantangan terbesar bagi terwujudnya perdamaian dunia.

Ia menyebut berlanjutnya konflik dan pendudukan wilayah Palestina sebagai persoalan yang membutuhkan perhatian serius komunitas internasional.

"Jika forum ini lahir dari keprihatinan atas berlanjutnya penjajahan dan serangan terhadap Palestina, Gaza, Tepi Barat, Yerusalem, hingga meluas ke kawasan lain, maka ini adalah langkah yang sangat relevan untuk membangun solidaritas dan aksi nyata bagi perdamaian," ucapnya.

HNW menilai peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tetap sangat strategis dalam memperjuangkan penyelesaian konflik dan pengakuan terhadap kemerdekaan Palestina.

Ia menyebut melalui forum PBB sudah semakin banyak negara yang memberikan pengakuan kepada Palestina sebagai perkembangan positif dalam diplomasi internasional.

Ia juga menyampaikan bahwa Indonesia terus konsisten memperjuangkan kemerdekaan Palestina melalui berbagai forum internasional, termasuk forum parlemen dunia serta melalui diplomasi yang dijalankan pemerintah Indonesia.

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Wamenlu RI) Muhammad Anis Matta yang turut hadir pada forum itu menegaskan dunia saat ini tengah menghadapi masa transisi peradaban yang ditandai oleh berbagai konflik geopolitik, krisis kepemimpinan global, dan melemahnya institusi internasional.

Baca juga: Wamenlu tegaskan kesiapan RI gelorakan solidaritas dunia Islam

Kondisi tersebut, kata Anis, menuntut lahirnya sebuah proposal peradaban baru yang mampu menyatukan umat manusia. Ia menjelaskan bahwa peradaban dibangun oleh lima unsur utama, yaitu manusia, tanah, waktu, pikiran, dan cita rasa atau nilai yang berkembang dari generasi ke generasi.

"Pada dasarnya kita saling mewarisi dari satu peradaban kepada peradaban yang lain. Tidak ada satu peradaban yang dapat mengklaim dirinya sebagai pemberi kontribusi terbesar dalam sejarah manusia," kata Anis.

Ia juga menyoroti siklus naik dan turunnya peradaban yang menurutnya merupakan hukum sejarah yang tidak dapat dihindari. Dalam proses pergantian peradaban tersebut, konflik sering kali muncul sebagai bagian dari dinamika menuju keseimbangan baru.

"Kita tidak perlu heran ketika menyaksikan konflik. Itu adalah proses dalam sejarah peradaban manusia yang tidak bisa dihindari," ujarnya.

Ia juga menilai berbagai konflik yang terjadi saat ini, mulai dari Eropa Timur hingga Timur Tengah, berakar pada krisis sistemik yang meliputi krisis kepemimpinan global, krisis institusi internasional, dan persaingan supremasi antarkekuatan besar dunia.

Sebagai solusi, Anis menawarkan perlunya sebuah proposal peradaban besar yang dapat menyatukan lima elemen utama, yaitu agama, demokrasi, kemakmuran, sains, dan seni. Ia meyakini kombinasi kelima unsur tersebut dapat menjadi fondasi bagi masa depan dunia yang lebih damai dan berkeadilan.

Baca juga: MPR nilai penahanan relawan Gaza langgar hukum internasional

Baca juga: HNW: Ketahanan Indonesia ditentukan kontribusi masyarakat akar rumput

Pewarta: Benardy Ferdiansyah
Editor: La Ode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.