Ajang bergengsi 10th Huawei ICT Competition Asia Pacific kembali digelar untuk memperkuat ekosistem talenta digital di kawasan regional. Kompetisi hasil kolaborasi Huawei dan ASEAN Foundation ini bertujuan mengasah kompetensi mahasiswa dalam penguasaan teknologi mutakhir, terutama pada jalur Cloud dan Network.
Sebagaimana dilansir dari Detik iNET, tercatat lebih dari 160 finalis dari berbagai negara di Asia-Pasifik berhasil mencapai babak final. Pencapaian ini diraih setelah mereka menyisihkan lebih dari 8.000 peserta yang mendaftar sejak tahap awal kompetisi.
Sekretaris Jenderal ASEAN, Dr. Kao Kim Hourn, memberikan penekanan khusus terhadap posisi strategis generasi muda dalam ekosistem digital saat ini. Kehadiran mereka dianggap sebagai pilar utama bagi daya saing ekonomi kawasan di masa depan.
"Masa depan ASEAN tidak hanya akan dibentuk oleh teknologi itu sendiri, tetapi juga oleh orang-orang di baliknya: para inovator muda, programmer, insinyur, pengembang, dan pemimpin digital seperti sebagian dari Anda yang hadir di sini hari ini. Talenta TIK bukan lagi pilihan, tetapi fondasi daya saing, inovasi, dan pertumbuhan inklusif ASEAN," ujar Dr. Kao Kim Hourn di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Beliau juga menyinggung implementasi ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) untuk mendukung mobilitas keterampilan. Selain itu, upaya penguatan startup dilakukan melalui portal Startup ASEAN yang kini menghubungkan lebih dari 10.000 perusahaan rintisan dengan nilai ekosistem mencapai USD130 miliar.
Pihak Huawei memandang para peserta bukan sekadar kompetitor, melainkan calon pemimpin yang akan membawa solusi bagi persoalan dunia nyata. Kompetisi ini menjadi jembatan krusial yang menghubungkan institusi akademik dengan kebutuhan industri teknologi global.
"Tantangan yang Anda hadapi di sini mencerminkan persoalan nyata di dunia, dan kreativitas serta tekad Anda akan membantu membentuk solusi yang dapat membangun masyarakat yang lebih baik," kata Peter Pan Junfeng, Vice President Huawei Asia Pacific.
Junfeng menjelaskan bahwa penyelenggaraan ke-10 ini menandai satu dekade kerja sama di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Program ini terus membuka peluang bagi mahasiswa dari berbagai universitas terbaik, termasuk di Indonesia, untuk menunjukkan kemampuannya di panggung internasional.
Pengembangan talenta digital dipandang sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bagi ASEAN. Kolaborasi antara pemerintah, sektor industri, dan lembaga pendidikan menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan era digital global.
"Dalam penyelenggaraan edisi ke-10 ini, kami menantikan dampak yang lebih besar lagi dengan terus menginspirasi inovasi, mendorong kolaborasi, dan mendukung generasi talenta digital berikutnya di kawasan kita," ujar Junfeng.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·