Moskow (ANTARA) - Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menyatakan tidak ada gangguan pada fasilitas nuklir Jepang setelah gempa kuat dan peringatan tsunami terjadi pada Senin (20/4).
Dalam unggahan di platform X, IAEA menyatakan pihaknya menerima informasi dari otoritas Jepang bahwa hingga pukul 08.16 UTC (15.00 WIB) tidak ditemukan kelainan di fasilitas nuklir di wilayah terdampak.
Sementara itu, Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara juga memastikan tidak ada situasi darurat di pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) maupun fasilitas nuklir lainnya akibat gempa dan potensi tsunami.
Baca juga: Media: Gelombang tsunami 40 cm capai pesisir Iwate, Jepang
"Kami tidak menerima laporan adanya kondisi darurat di fasilitas nuklir di dekat pusat gempa," kata Kihara kepada wartawan.
Badan Meteorologi Jepang melaporkan gempa terjadi di wilayah timur laut Pulau Honshu, Senin, tepatnya di sekitar Prefektur Aomori dan Iwate.
Magnitudo gempa kemudian diperbarui dari 7,5 menjadi 7,7, dan kedalamannya direvisi dari 10 kilometer menjadi 18 kilometer.
Media NHK melaporkan tsunami terdeteksi di laut dan bergerak menuju wilayah pesisir Aomori dan Iwate.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Operator periksa PLTN Jepang usai gempa magnitudo 7,4
Baca juga: Gempa magnitudo 7,4 guncang Jepang utara, ada peringatan tsunami
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·