Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menjalin kerja sama strategis dengan Malaysia Chinese Association (MCA) untuk memperkuat tata kelola pelindungan dan pemberdayaan bagi tenaga kerja asal Indonesia. Kolaborasi yang dibahas dalam pertemuan di Jakarta pada Selasa (21/4/2026) ini bertujuan membuka peluang kerja sektor formal secara menyeluruh.
Menteri P2MI, Mukhtarudin, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari transformasi kelembagaan yang mencakup pemetaan peluang kerja luar negeri hingga penindakan jalur non-prosedural. Sebagaimana dilansir dari Detikcom, pemerintah mencatat terdapat 22.915 layanan penempatan di Malaysia yang didominasi sektor perkebunan.
Data pemerintah menunjukkan tantangan besar pada periode 1 Januari hingga 19 April 2026 dengan adanya 22.915 pengaduan serta 3.768 pemulangan pekerja migran. Mukhtarudin menegaskan bahwa mayoritas kasus tersebut melibatkan pekerja yang berangkat tidak sesuai prosedur resmi.
"Melihat kondisi tersebut, terdapat potensi besar kolaborasi antara Kementerian P2MI dan MCA. MCA dapat berperan dalam mengidentifikasi peluang kerja dan kebutuhan keterampilan industri di Malaysia agar pelatihan di Indonesia lebih tepat sasaran. Selain itu, pembentukan task force bersama diharapkan dapat membantu penyelesaian sengketa antara PMI dan pemberi kerja," ujar Mukhtarudin, Menteri P2MI.
Program ini juga mencakup pemberian beasiswa kewirausahaan dan fasilitasi pemasaran produk purna pekerja migran melalui jaringan yang dimiliki MCA. Upaya peningkatan kapasitas ini selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang fokus pada pendidikan vokasi dan upskilling bagi calon tenaga kerja.
"MCA sendiri memiliki dua universitas serta rumah sakit pendidikan. Dalam kerja sama ini, pekerja migran dari Indonesia dapat dikembangkan menjadi tenaga profesional maupun tenaga vokasi, khususnya untuk sektor kesehatan dan perkebunan kelapa sawit," ujar Datuk Ir. Lawrence Low, Vice President MCA.
Lawrence menambahkan bahwa Malaysia sangat membutuhkan suplai tenaga kerja migran untuk mengisi berbagai sektor industri. Ia berharap kerja sama tersebut dapat mendorong produktivitas serta memberikan dampak ekonomi positif bagi Indonesia maupun Malaysia.
"MCA sendiri memiliki dua universitas serta rumah sakit pendidikan. Dalam kerja sama ini, pekerja migran dari Indonesia dapat dikembangkan menjadi tenaga profesional maupun tenaga vokasi, khususnya untuk sektor kesehatan dan perkebunan kelapa sawit," ujar Lawrence.
Pemerintah akan mendorong penempatan melalui dua jalur resmi utama guna menjamin hak pekerja. Skema pertama adalah P to P melalui agensi berizin, sedangkan skema kedua adalah G to P (Government to Private) untuk pemenuhan tenaga terampil dalam skala besar.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·