Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono yang akrab disapa Ibas, mendorong pondok pesantren untuk tetap menjadi pilar pendidikan dan dakwah yang menyejukkan. Ia menekankan pentingnya memperkuat nilai keislaman yang damai di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.
Dilansir dari Detikcom, Ibas mengajak seluruh elemen pesantren untuk tetap adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain aspek intelektual, penguatan wawasan kebangsaan serta global dinilai krusial bagi para santri saat ini.
Konteks kedamaian di lingkungan belajar juga menjadi sorotan utama, terutama terkait kasus perundungan yang sempat viral di Pati, Jawa Tengah. Ibas mengingatkan agar pesantren menciptakan ruang belajar yang penuh akhlak dan kasih sayang demi mencegah kekerasan di lembaga pendidikan.
Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, ia juga mengajak masyarakat mendoakan keselamatan jemaah haji Indonesia di Tanah Suci. Fokus perhatiannya mencakup penguatan kelembagaan pesantren agar lebih mandiri dan memiliki fasilitas yang memadai.
Guna merealisasikan hal tersebut, Ibas menyoroti wacana pembentukan Direktorat Jenderal Pondok Pesantren. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat dukungan sarana dan prasarana bagi pesantren-pesantren yang masih membutuhkan bantuan pemerintah secara adil.
Aspirasi ini disampaikan saat ia menghadiri silaturahmi bersama pimpinan dan santri di Kabupaten Pacitan pada Selasa, 5 Mei 2026. Kegiatan tersebut mengusung tema 'Memperkuat Ukhuwah, Damai Bersatu, Majukan Negeri' sebagai bentuk apresiasi atas peran strategis ulama dalam menjaga harmoni bangsa.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada para kiai dan keluarga besar pesantren yang terus mendoakan kami, mendoakan daerah kita, dan bangsa Indonesia," ujar Ibas dalam keterangannya, Kamis (7/5/2026).
Ia menegaskan bahwa fondasi kekuatan Indonesia tidak hanya berada di tangan pemimpin formal, tetapi juga pada kontribusi tokoh agama. Menurutnya, keberagaman luas yang dimiliki bangsa harus terus dijaga dari potensi perpecahan melalui nilai moderat.
"Kekuatan bangsa ini hadir dari kebersamaan-para ulama, pimpinan pondok, dan santri yang terus menjaga harmoni dan persatuan," kata Ibas.
Ibas menilai nilai-nilai agama yang penuh kebijaksanaan berfungsi sebagai perekat perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat. Ia tidak ingin luasnya wilayah Indonesia menjadi celah bagi munculnya benih-benih disintegrasi.
"Kita tidak ingin Indonesia yang luas ini terpecah. Justru melalui nilai-nilai agama yang damai, kita bisa mempersatukan perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat," tegas Ibas.
Mengenai peran pendidikan, Ibas melihat pesantren sebagai pusat pembentukan karakter generasi unggul. Kapasitas santri harus terus didorong agar mampu menjawab tantangan zaman melalui penguasaan teknologi tanpa meninggalkan akar identitas bangsa.
"Pesantren memiliki peran penting dalam mencetak generasi unggul yang tidak hanya berilmu, tetapi juga mandiri dan mampu menjawab tantangan zaman," tutur Ibas.
Ibas juga mendesak pimpinan pondok untuk menjamin keamanan dan kenyamanan di lingkungan pendidikan. Pendidikan di pesantren wajib mengedepankan disiplin serta rasa saling menghormati antara pengajar dan santri.
"Jangan sampai ada kekerasan ataupun perundungan di lingkungan pendidikan kita. Pesantren harus menjadi tempat yang menenangkan, membangun karakter, dan menghadirkan kasih sayang," tegas Ibas.
Lulusan S2 Nanyang Technological University ini juga mendorong adanya sinergi yang kuat antara pesantren dengan pemerintah. Kolaborasi lintas sektor dianggap sebagai kunci untuk memperkuat kemandirian ekonomi serta kelembagaan pesantren di tingkat nasional.
Dukungan regulasi melalui implementasi Undang-Undang Pesantren turut menjadi poin penting yang dibahas. Ibas berharap pesantren yang belum berkembang secara maksimal bisa mendapatkan perhatian yang merata dalam hal kebijakan publik.
"Kita ingin pesantren-pesantren yang belum berkembang maksimal juga mendapatkan perhatian dan bantuan yang adil dari pemerintah," jelas Ibas.
Terkait pelayanan haji, Ibas meminta pemerintah terus memperbaiki komunikasi dengan otoritas Arab Saudi. Peningkatan fasilitas dan kuota menjadi harapan utama agar jemaah Indonesia bisa menjalankan ibadah secara lebih khusyuk.
"Kita ingin pelayanan haji terus membaik, dari sisi fasilitas hingga kuota, agar masyarakat dapat beribadah dengan khusyuk dan nyaman," ujar Ibas.
Ia pun mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengawal setiap kebijakan haji agar memberikan manfaat nyata. Doa untuk kesehatan para jemaah di Tanah Suci terus dipanjatkan sebagai bentuk solidaritas umat.
"Mari kita kawal bersama agar pelayanan haji semakin baik dan masyarakat mendapatkan kemudahan setiap tahunnya," tambahnya.
Pimpinan Ponpes Al Fattah Kikil, Kiai Haji Hammam Fathulloh HB, menyambut baik sinergi antara pihak pesantren dengan wakil rakyat. Ia berharap bimbingan terhadap umat dan dukungan fasilitas untuk pesantren di daerah seperti Pacitan dapat terus berkelanjutan.
"Semoga sinergi dan komunikasi terus terjalin dengan baik, dan pesantren dapat terus dibersamai dalam membimbing umat. Kami juga berharap dukungan terhadap pesantren dapat semakin merata, khususnya di Pacitan," tutupnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·