Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), memberikan penekanan penting pada peran pondok pesantren dalam mencetak generasi muda. Dilansir dari Detikcom, ia mendorong penguatan pendidikan akhlak yang dipadukan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ibas menilai pesantren memiliki posisi strategis untuk membentuk santri yang tidak hanya cerdas secara spiritual, tetapi juga adaptif terhadap dinamika zaman. Hal ini mencakup kesiapan dalam menghadapi tantangan global yang terus berubah dengan cepat.
"Pesantren hari ini harus mampu melahirkan generasi yang kuat akhlaknya, luas ilmunya, memahami teknologi, kreatif, dan mampu mengikuti perkembangan dunia. Santri tidak boleh tertinggal dalam ilmu pengetahuan dan teknologi," ujar Ibas.
Saat bersilaturahmi dengan para kiai dan pimpinan pesantren di Kabupaten Trenggalek, Ibas menyoroti perlunya pemahaman terhadap isu-isu dunia. Literasi mengenai geopolitik, geoekonomi, hingga digitalisasi dianggap sebagai kunci daya saing.
"Dunia bergerak sangat cepat. Ada tantangan geopolitik, geoekonomi, perkembangan digitalisasi, hingga perubahan teknologi yang luar biasa. Karena itu, santri juga perlu memahami perkembangan dunia agar bisa menjadi generasi yang bijak, siap bersaing, tetapi tetap memiliki nilai dan jati diri," katanya.
Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI ini mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh melepaskan aspek karakter. Pendidikan etika, adab, dan kasih sayang harus tetap menjadi fondasi utama dalam proses belajar mengajar di lingkungan pesantren.
"Ilmu yang tinggi harus diiringi akhlak yang baik. Pendidikan tidak hanya soal kepintaran, tetapi juga tentang adab, etika, rasa hormat, dan kasih sayang kepada sesama. Pesantren sejak dahulu menjadi tempat lahirnya generasi yang santun, rendah hati, dan membawa manfaat bagi masyarakat," tutur Ibas.
Kemandirian Ekonomi dan Implementasi UU Pesantren
Selain aspek moral, Ibas mendorong tumbuhnya kemandirian ekonomi di kalangan santri melalui inovasi dan kreativitas. Lingkungan pesantren diharapkan mampu menjadi mesin penggerak ekonomi baru yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
"Kita ingin santri-santri kita juga tumbuh menjadi generasi yang produktif dan mandiri. Kreativitas harus terus dikembangkan supaya lahir engine-engine ekonomi baru dari pesantren dan masyarakat. Anak-anak muda harus berani berinovasi, menciptakan peluang kerja, dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya," ucapnya.
Ia juga menegaskan bahwa kehadiran Undang-Undang Pesantren telah memberikan payung hukum yang kuat. Regulasi ini mendukung pesantren untuk menjalankan fungsi pendidikan, dakwah, sekaligus pusat pemberdayaan ekonomi umat secara berkelanjutan.
"Alhamdulillah, Undang-Undang Pesantren telah mewadahi kita semua. Pesantren bisa terus berkembang menjadi pusat pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, sekaligus penggerak ekonomi produktif yang bermanfaat dan berkelanjutan," kata Ibas.
Sinergi Pembangunan dan Pelayanan Publik
Dalam agenda Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan tersebut, Ibas mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah untuk memperkuat kolaborasi. Sinergi ini dianggap krusial untuk mempercepat pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan warga secara kolektif.
"Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Harus ada sinergi dan persatuan antara pondok pesantren, pemerintah, masyarakat, dan wakil rakyat. Kalau kita kompak, insyaallah kemajuan dan kesejahteraan masyarakat bisa lebih cepat terwujud," jelasnya.
Terkait pelayanan publik, ia menyinggung pentingnya biaya haji yang tetap terjangkau dengan kualitas yang terus meningkat. Pihaknya berkomitmen mengawal peran Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) agar masyarakat tidak terbebani biaya tinggi.
"Kami terus mengawal agar biaya haji tetap dalam batas kepatutan. Dengan subsidi dan dukungan dari BPKH, masyarakat tidak terbeban biaya penuh. Kami juga terus mendorong agar pelayanan jamaah semakin baik dan waktu tunggu haji dapat dipersingkat," ujar Ibas.
Kiai Haji Imron Rosyidi dari Pondok Pesantren Ar Rosyidiah menyambut baik perhatian tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara pesantren dan pemerintah sangat diperlukan agar kemajuan ekonomi tetap dibarengi dengan penguatan moral manusia Indonesia.
"Kami mohon doa dan dukungan agar pesantren terus menjadi cahaya bagi umat dan bangsa, menjaga akhlak generasi muda, memperkuat ilmu pengetahuan, dan melahirkan generasi yang bermanfaat bagi Indonesia," pungkas Ibas.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·