Ibu Bayi Nyaris Tertukar Minta RSHS Transparan: Perkataan Beda-beda, Berbelit

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Nina Saleha, ibu yang bayinya nyaris dibawa orang lain di RSHS, saat ditemui di rumahnya di Cihanyir, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung pada Minggu (19/4/2026). Foto: Abisatya/kumparan

Ibu dari bayi yang hampir tertukar di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Nina Saleha, meminta pihak rumah sakit transparan dalam penanganan kasus tersebut.

Menurut Nina, manajemen rumah sakit dinilai tidak transparan sejak awal kejadian. Ia menilai keterangan yang disampaikan pihak RSHS, termasuk oleh jajaran pimpinan, tidak konsisten.

“Perkataannya berbeda-beda dan berbelit-belit. Sedangkan kejadian yang saya lihat ya seperti yang saya jelaskan. Mereka cuma menutup-nutupi saja,” kata Nina di Cihanyir, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung, Minggu (19/4).

Kekecewaan tersebut semakin bertambah saat dirinya bersama tim pengacara datang ke rumah sakit untuk meminta klarifikasi. Namun, ia tidak berhasil menemui direktur utama dan hanya diterima oleh kuasa hukum.

“Dirut tidak ada, hanya kuasa hukumnya saja yang menjelaskan. Katanya sedang rapat,” katanya.

Tak hanya itu, Nina juga menyebut tidak dapat bertemu dengan perawat maupun petugas keamanan yang diduga terlibat dalam insiden tersebut. Bahkan, permintaan untuk melihat rekaman CCTV sebagai bukti utama juga tidak dipenuhi.

“Meminta CCTV pun kami tidak diberikan,” tegasnya.

Nina Saleha, ibu yang bayinya nyaris dibawa orang lain di RSHS, saat ditemui di rumahnya di Cihanyir, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung pada Minggu (19/4/2026). Foto: Abisatya/kumparan

Menurut Nina, keterbukaan informasi dari pihak rumah sakit menjadi kunci untuk mengungkap secara jelas apa yang sebenarnya terjadi. Ia meminta seluruh pihak yang terlibat, termasuk perempuan yang sempat membawa bayinya, segera dihadirkan untuk dimintai keterangan.

“Suster, satpam, dan ibu itu harus dihadirkan dan dikonfirmasi. Termasuk CCTV juga harus dibuka,” ujarnya.

Nina menegaskan dirinya tidak ingin kasus ini berlarut-larut tanpa kejelasan. Ia berharap ada itikad baik dari pihak rumah sakit untuk bekerja sama dalam proses penyelidikan.

“Harapannya ada titik terang, ada apa sebenarnya di rumah sakit itu. Jangan sampai ditutup-tutupi,” katanya.

Sementara itu, laporan resmi telah diajukan ke Polda Jawa Barat dan turut mendapat perhatian dari Ombudsman Republik Indonesia. Namun hingga saat ini, Nina mengaku belum menerima perkembangan signifikan dari laporan tersebut.

“Belum ada perkembangan, mudah-mudahan segera ada,” ujarnya.

Di tengah proses hukum yang berjalan, Nina memastikan kondisi bayinya saat ini dalam keadaan sehat. Ia pun berharap kasus yang menimpanya bisa segera tuntas dan tidak terulang pada pasien lain.

“Alhamdulillah anak saya sehat,” pungkasnya.

Penjelasan RSHS

Direktur Utama Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr. H. Rachim Dinata Marsidi, Sp.B., Finac., M. Kes, menyampaikan detik-detik dari sisi RSHS, terkait kasus bayi Nina Saleha yang sempat viral karena nyaris dibawa orang tidak dikenal.

Rachim menjelaskan bayi Nyonya NS pertama kali datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSHS pada 5 April 2026 dengan gejala kuning di beberapa bagian tubuh. Bayi tersebut kemudian mendapatkan penanganan medis dan dirawat di ruang NHCU.

“Bayi Nyonya NS telah diberikan penanganan dengan baik sesuai kebutuhannya, dan perawatan selanjutnya dilakukan di NHCU,” kata Rachim dalam pernyataan resminya, Jumat (17/4).

Ia melanjutkan, pada 8 April 2026 kondisi bayi sudah membaik dan direkomendasikan untuk pulang. Pihak rumah sakit kemudian menghubungi Nina untuk proses kepulangan tersebut.

Pada hari yang sama, menurut Rachim, telah terjalin komunikasi antara petugas dengan pihak keluarga untuk edukasi dan identifikasi ulang bayi sebelum diserahkan. Namun, dalam prosesnya terdapat dua bayi yang dijadwalkan pulang dan berada di ruang yang sama.

“Pada saat itu terdapat dua pasangan suami istri yang menunggu kepulangan bayi di ruang NHCU, dan akses ke ruangan tersebut tidak bisa sembarangan,” jelasnya.

Situasi mulai berubah ketika petugas hendak menyerahkan bayi kepada Nina, namun yang bersangkutan disebut tidak berada di tempat. Petugas kemudian menanyakan keberadaan ibu bayi kepada salah satu orang tua pasien lain di ruangan tersebut.

“Disampaikan bahwa Nyonya NS sedang meninggalkan ruangan NHCU,” kata Rachim.

Dalam kondisi tersebut, petugas harus memenuhi kebutuhan bayi yang sudah waktunya mendapatkan asupan susu. Di saat bersamaan, petugas disebut terdistraksi oleh pertanyaan dari keluarga pasien lain.

“Sehingga menyebabkan petugas kami menyerahkan bayi NS kepada ibu dari pasien yang lain,” ungkapnya.

Namun, menurut Rachim, situasi itu tidak berlangsung lama. Petugas segera mengambil kembali bayi tersebut sebelum sempat diberikan susu, lalu mengembalikannya kepada ibu kandungnya.