IEA Peringatkan Kelangkaan Avtur di Eropa Akibat Konflik Timur Tengah

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan potensi krisis bahan bakar jet atau avtur di kawasan Eropa yang kini hanya memiliki cadangan untuk sekitar enam minggu pada Kamis (16/4/2026). Situasi ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu jalur distribusi utama dunia di Selat Hormuz.

Krisis energi ini dilaporkan mulai berdampak signifikan terhadap operasional maskapai penerbangan di seluruh benua tersebut. Dilansir dari Money, Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyatakan bahwa gangguan pasokan yang terus berlanjut berisiko memicu pembatalan penerbangan massal dalam waktu dekat.

"Eropa mungkin hanya punya avtur yang cukup untuk sekitar 6 minggu lagi," ujar Birol, Direktur Eksekutif IEA. Penegasan ini disampaikan seiring dengan proyeksi terjadinya kelangkaan mulai Juni 2026 jika Eropa gagal mendapatkan sumber pasokan alternatif.

Blokade di Selat Hormuz menjadi faktor utama karena jalur tersebut merupakan rute vital pengiriman minyak dan gas global. Sebanyak 75 persen pasokan avtur Eropa bergantung pada impor dari Timur Tengah, dengan lebih dari 30 persen total kebutuhan melewati jalur laut tersebut.

Ketergantungan yang tinggi membuat industri penerbangan rentan terhadap kenaikan harga tiket dan penghentian operasional pesawat. Beberapa bandara besar bahkan telah mengeluarkan peringatan bahwa stok bahan bakar di lokasi mereka bisa menipis hanya dalam waktu tiga minggu ke depan.

Kapasitas kilang domestik di Eropa saat ini berada pada batas maksimum, sehingga sulit untuk meningkatkan produksi dalam jangka pendek. Penurunan kapasitas pengolahan minyak selama beberapa tahun terakhir akibat kebijakan transisi energi bersih memperumit upaya pemenuhan stok mandiri.

Negara-negara di Eropa memiliki tingkat kerentanan yang berbeda, seperti Inggris yang mengandalkan impor untuk 60 persen kebutuhan avturnya. Sementara itu, Spanyol berada dalam posisi lebih aman karena memiliki delapan kilang aktif dan berstatus sebagai eksportir bersih bahan bakar tersebut.

Uni Eropa melalui pihak Komisi kini tengah menyusun rencana darurat untuk memaksimalkan kapasitas kilang yang ada mulai bulan depan. Langkah ini mencakup pemetaan kapasitas pengolahan minyak di seluruh kawasan guna menjamin keberlangsungan operasional fasilitas energi secara optimal.

Ketidakpastian pasar juga memaksa para pemasok bahan bakar untuk mengubah kebijakan proyeksi pasokan mereka menjadi lebih singkat. Chief Technology Officer Lufthansa, Grazia Vittadini, menyebutkan bahwa pemasok kini tidak bersedia memberikan perkiraan ketersediaan stok untuk jangka waktu lebih dari satu bulan.

Birol menekankan bahwa dampak krisis ini akan merambat pada kenaikan harga bensin, gas, dan listrik yang memicu inflasi global. Negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin diprediksi akan menanggung beban ekonomi terberat akibat lonjakan harga energi internasional ini.