IESR sambut positif target PLTS 100 GW dan konversi kendaraan listrik

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Terkait visi pembangunan PLTS 100 GW, IESR memandang aspirasi ini sebagai sinyal positif komitmen politik,

Jakarta (ANTARA) - Institute for Essential Services Reform (IESR) menyambut positif target ambisius Presiden Prabowo Subianto untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW) dalam tiga tahun ke depan.

Pembangunan PLTS itu akan dipadukan dengan program konversi kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) menjadi kendaraan listrik.

Direktur Riset dan Inovasi IESR Raditya Wiranegara di Jakarta, Kamis mengatakan, visi tersebut menunjukkan komitmen politik pemerintah dalam mempercepat transisi energi sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

“Terkait visi pembangunan PLTS 100 GW, IESR memandang aspirasi ini sebagai sinyal positif komitmen politik,” kata Raditya.

Baca juga: Hotel Premium di Bali Adopsi Energi Surya Seiring Prioritas Ketahanan Energi

Menurut dia, target pembangunan PLTS dalam skala besar dapat menjadi momentum penting untuk mempercepat pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia. Apalagi, Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal.

Meski demikian, IESR mengingatkan bahwa pencapaian target tersebut dalam waktu tiga tahun memerlukan perencanaan dan implementasi yang matang agar berjalan berkelanjutan.

Sebab, secara teknis dan linimasa, target capaian dalam tiga tahun menjadi tantangan yang besar.

Baca juga: Pemerintah siapkan tahap awal PLTS 100 GW sebesar 17 GW

“Oleh karena itu, kami memberikan catatan penting pada aspek rasionalitas tahapan implementasi agar visi besar ini dapat dieksekusi secara berkelanjutan tanpa mengabaikan stabilitas sistem dan kesiapan industri serta ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten,” ujarnya.

IESR juga menilai kejelasan institusi yang akan memimpin implementasi program menjadi faktor penting agar koordinasi lintas sektor dapat berjalan efektif.

Dia juga menyoroti pentingnya kepastian institusi apa saja yang akan diberi mandat memimpin implementasi visi tersebut.

Baca juga: Pemerintah ajak Hipmi terlibat dalam proyek PLTS 100 GW

“Kejelasan mandat kelembagaan menjadi krusial karena akan menentukan efektivitas koordinasi lintas sektor, perencanaan program, pembagian peran, serta pengawasan pelaksanaan di lapangan,” kata Raditya.

Di sektor transportasi, IESR mendukung langkah elektrifikasi kendaraan pribadi sebagai salah satu jalur penting transisi energi nasional.

Program konversi kendaraan BBM menjadi kendaraan listrik dinilai dapat menjadi alternatif untuk memanfaatkan kendaraan yang sudah ada sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor BBM.

Baca juga: ESDM: Konversi ke PLTS bisa hemat hingga Rp73,9 triliun per tahun

Kemudian, soal program konversi kendaraan listrik, IESR mencatat masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan agar program konversi kendaraan dapat berjalan optimal.

Salah satunya ialah biaya konversi yang saat ini masih relatif mahal, bahkan dalam beberapa kasus lebih tinggi dibandingkan membeli kendaraan listrik baru.

Komponen biaya terbesar berasal dari baterai serta conversion kit yang meliputi motor listrik dan inverter.

Selain itu, ekosistem konversi kendaraan listrik di Indonesia juga dinilai masih perlu diperkuat. Jumlah bengkel konversi masih terbatas, sementara sejumlah komponen utama masih bergantung pada impor.

Baca juga: Empat pabrik tekstil kembangkan PTLS atap untuk efisiensi operasional

“Dengan demikian, kelayakan konversi kendaraan BBM ke listrik pada akhirnya sangat bergantung pada aspek keekonomian. Pertanyaan utamanya adalah apakah konversi tersebut dapat menjadi solusi yang benar-benar ekonomis, baik bagi konsumen maupun bagi upaya transisi energi nasional,” ujar Raditya.

Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.