Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot ke level 6.858 pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, setelah tertekan aksi jual bersih investor asing senilai Rp751 miliar. Penurunan tajam ini dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar global terhadap stabilitas makroekonomi dan eskalasi konflik di Selat Hormuz.
Akumulasi aksi jual investor asing pada pasar reguler telah menyentuh angka Rp38,36 triliun secara tahun kalender (year-to-date). Dilansir dari Bloombergtechnoz, tekanan jual yang masif ini mengakibatkan performa IHSG terkoreksi hingga 20,68 persen sepanjang tahun 2026 berjalan.
Kondisi eksternal menjadi faktor utama yang mengguncang kepercayaan investor, terutama penghentian arus logistik di Selat Hormuz selama lebih dari 10 minggu akibat konflik militer. Selain itu, pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai keraguan masa depan gencatan senjata dengan Iran memperburuk sentimen pasar.
Analis dari Bloomberg Economics memberikan pandangan terkait kebuntuan diplomasi yang terjadi di Timur Tengah saat ini.
"Kesepakatan damai yang komprehensif tampaknya sulit terwujud," tulis analis Bloomberg Economics, termasuk Dina Esfandiary dan Becca Wasser, dalam catatan terbarunya.
Derasnya arus modal keluar (capital outflow) di pasar saham juga berdampak langsung pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Berdasarkan data per 12 Mei 2026, rupiah melemah 4,63 persen secara tahun berjalan dan ditutup pada level Rp17.500 per dolar AS, yang merupakan titik terlemah dalam sejarah.
Sektor perbankan menjadi sasaran utama pelepasan aset oleh pemodal internasional, dengan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat net sell tertinggi mencapai Rp26,8 triliun. Kondisi ini membuat harga saham BBCA terkontraksi 24,15 persen ke posisi Rp6.125 per lembar saham.
Meskipun tekanan jual mendominasi, beberapa emiten terpantau masih mencatatkan beli bersih oleh investor asing. PT Astra International Tbk (ASII) memimpin daftar beli bersih dengan nilai Rp2,52 triliun, diikuti oleh emiten sektor pertambangan emas dan energi.
Performa IHSG saat ini tertinggal jauh dibandingkan bursa regional Asia lainnya yang mayoritas mencatat pertumbuhan positif. Sebagai perbandingan, Strait Times Index Singapura tumbuh 6,32 persen, sementara KOSPI Korea Selatan melonjak signifikan hingga 81 persen pada periode yang sama.
| 1 | PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) | Rp26,8 triliun |
| 2 | PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) | Rp9,25 triliun |
| 3 | PT Bumi Resources Tbk (BUMI) | Rp8,85 triliun |
| 4 | PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) | Rp7,06 triliun |
| 5 | PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) | Rp2,28 triliun |
| 6 | PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) | Rp2,19 trillaun |
| 7 | PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) | Rp1,75 triliun |
| 8 | PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) | Rp949,97 miliar |
| 9 | PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) | Rp717,01 miliar |
| 10 | PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) | Rp692,09 miliar |
| 1 | PT Astra International Tbk (ASII) | Rp2,52 triliun |
| 2 | PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) | Rp1,91 triliun |
| 3 | PT United Tractors Tbk (UNTR) | Rp1,86 triliun |
| 4 | PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) | Rp1,79 triliun |
| 5 | PT Vale Indonesia Tbk (INCO) | Rp1,78 triliun |
| 6 | PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) | Rp1,77 triliun |
| 7 | PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) | Rp1,02 triliun |
| 8 | PT Bukit Asam Tbk (PTBA) | Rp1,01 triliun |
| 9 | PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) | Rp825,56 miliar |
| 10 | PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) | Rp772,7 miliar |
Data Bloomberg menunjukkan tingkat pengembalian investasi di Bursa Saham Indonesia masih lebih rendah dibandingkan Bursa Saham India, di mana SENSEX hanya mencatat koreksi sebesar 12,2 persen ytd.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·