Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak menguat terbatas pada perdagangan Rabu (13/5/2026) di tengah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan proses rebalancing indeks global MSCI. Dilansir dari Money, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh penantian investor terhadap rilis data inflasi Amerika Serikat.
Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa pelaku pasar saat ini sedang mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed melalui data inflasi tersebut. Evaluasi berkala yang dilakukan MSCI turut menjadi perhatian karena berdampak pada arus modal asing di pasar modal Indonesia.
"Kami perkirakan IHSG berpeluang menguat terbatas dengan support 6.815 dan resistansi 6.879. Dari sisi sentimen investor akan menanti data inflasi AS dan juga rebalancing MSCI," ujar Herditya, Analis teknikal MNC Sekuritas.
Investment Specialist PT Korea Investment dan Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, memberikan pandangan mengenai dampak fluktuasi mata uang terhadap sektor tertentu. Ia menyebut sektor perbankan biasanya menunjukkan respons negatif saat rupiah terdepresiasi karena adanya penyesuaian portofolio oleh institusi internasional.
"Perbankan cenderung merespons negatif, karena spread kurs akan memaksa rebalancing bagi institusi asing yang memiliki weighting besar di saham perbankan," tukas Faris, Investment Specialist PT Korea Investment dan Sekuritas Indonesia (KISI).
Meskipun sektor perbankan tertekan, Faris menyoroti sektor pulp sebagai alternatif yang potensial bagi investor di tengah penguatan dollar AS. Perusahaan di sektor ini diuntungkan karena mayoritas pendapatan mereka menggunakan denominasi mata uang asing.
"Selain sektor energi, sektor pulp juga menjadi salah satu yang menarik karena revenue perusahaan dalam bentuk dollar AS," lanjut Faris, Investment Specialist PT Korea Investment dan Sekuritas Indonesia (KISI).
Ia juga menambahkan bahwa meski risiko aksi jual massal tetap ada akibat kekhawatiran stabilitas ekonomi, kondisi fundamental perbankan domestik saat ini dinilai lebih tangguh dibandingkan krisis finansial sebelumnya. Secara teknikal, area indeks pada kisaran 6.800 hingga 6.900 dianggap sebagai level pertahanan yang kuat.
"Jika dilihat dari price action, area 6.800-6.900 susah ditembus, artinya downside mulai terbatas. Sell shock mungkin akan terjadi pada rebalancing MSCI yang dinantikan pelaku pasar, namun setelah itu akan terjadi reversal price," katanya, Ahmad Faris Mu’tashim, Investment Specialist PT Korea Investment dan Sekuritas Indonesia (KISI).
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·