Nilai tukar rupiah kembali mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh level Rp17.500 pada pembukaan perdagangan Rabu (13/5/2026). Pelemahan ini dipicu oleh sentimen negatif dari tinjauan indeks MSCI dan memanasnya data inflasi AS yang mengurangi harapan pemangkasan suku bunga.
Berdasarkan data Refinitiv yang dilansir dari CNBC Indonesia, mata uang Garuda melemah 0,06 persen saat perdagangan dimulai. Tekanan ini melanjutkan tren negatif setelah pada penutupan hari sebelumnya rupiah terkoreksi 0,49 persen ke posisi Rp17.490 per dolar AS, yang menjadi rekor penutupan terendah sepanjang sejarah.
Kondisi pasar modal domestik turut memperberat posisi rupiah menyusul pengumuman hasil review indeks global oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) periode Mei 2026. Dalam laporan tersebut, enam saham perusahaan Indonesia resmi dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index tanpa adanya penambahan saham baru.
Tekanan serupa terlihat pada MSCI Global Small Cap Indexes, di mana 13 saham asal Indonesia didepak dari indeks tersebut, sementara hanya satu saham yakni PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang berhasil masuk. Seluruh perubahan komposisi indeks ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026.
Perubahan indeks MSCI berisiko memicu aksi jual oleh investor asing yang kemudian berdampak pada meningkatnya kebutuhan konversi dana ke dolar AS. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terpantau stabil di level 98,312 setelah sebelumnya mencatatkan penguatan tajam sebesar 0,35 persen.
Kekuatan dolar AS didorong oleh rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat yang naik 3,8 persen secara tahunan pada April 2026. Angka ini merupakan kenaikan tertinggi sejak Mei 2023, yang dipengaruhi oleh lonjakan harga minyak akibat konflik bersenjata dengan Iran di wilayah Timur Tengah.
Situasi geopolitik yang memburuk membuat harapan gencatan senjata semakin menipis. Kondisi ini dikonfirmasi oleh pernyataan resmi otoritas tertinggi Amerika Serikat mengenai perkembangan negosiasi dengan pihak Teheran.
"Presiden AS Donald Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi rapuh setelah Teheran menolak proposal AS untuk mengakhiri perang," tulis laporan CNBC Indonesia.
Kombinasi inflasi yang tinggi dan ketidakpastian global menyebabkan pasar meragukan adanya penurunan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) tahun ini. Merujuk data CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada pertemuan Desember mendatang kini justru meningkat menjadi 35 persen.
51 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·