Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia dibuka melonjak 68,32 poin atau 0,96 persen ke posisi 7.160,79 pada perdagangan Kamis, 7 Mei 2026. Penguatan ini dipicu oleh optimisme pasar global terkait potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang meredakan ketegangan geopolitik.
Laju IHSG pagi ini melanjutkan tren positif setelah ditutup pada level 7.092 pada Rabu kemarin dengan total transaksi mencapai Rp17,71 triliun. Melansir data Bursa Efek Indonesia, penguatan bursa domestik sejalan dengan gairah pasar di kawasan Asia, di mana indeks Nikkei melambung hingga 5,59 persen dan Hang Seng naik 1,48 persen.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menjelaskan bahwa indeks berpotensi menguji level 7.150 hingga 7.200 seiring sentimen positif dari mancanegara. Sementara itu, nilai tukar rupiah juga menunjukkan taji dengan menguat ke level Rp17.380 per dolar AS pada penutupan Rabu, memutus tren pelemahan lima hari berturut-turut.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan bahwa kondisi fundamental ekonomi domestik sebenarnya cukup kuat untuk menyokong stabilitas nilai tukar. Hal ini didukung oleh pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang menyentuh angka 5,61 persen secara tahunan.
"Sebabnya ada dua yaitu faktor global, dan kemudian pada faktor musiman," kata Perry Warjiyo, Gubernur BI.
Ia menambahkan bahwa tekanan jangka pendek sempat muncul akibat harga minyak yang tinggi serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Meski demikian, penurunan harga minyak mentah jenis WTI sebesar 7,03 persen menjadi 95,08 dolar AS per barel pada Rabu kemarin menjadi katalis positif bagi pasar keuangan negara berkembang.
Optimisme perdamaian muncul setelah adanya laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin mendekati kesepakatan moratorium pengayaan nuklir. Kendati demikian, volatilitas sempat terjadi di pasar saham AS saat Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan melalui media sosial.
"Jika mereka tidak setuju, pemboman akan dimulai, dan sayangnya akan berada pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya," tulis Presiden Donald Trump, Presiden AS.
Trump juga mengonfirmasi adanya jeda sementara pada operasional pengawalan kapal di Selat Hormuz sebagai bagian dari kemajuan negosiasi. Penurunan risiko perang ini diharapkan dapat menghindarkan wilayah sensitif seperti Asia Tenggara dari kesulitan ekonomi yang lebih dalam.
"Jika kita benar-benar mencapai titik di mana konflik mulai mereda atau bahkan berhenti sepenuhnya, dan kita melihat Selat Hormuz dibuka kembali, ini akan memungkinkan beberapa wilayah yang paling sensitif secara ekonomi dan paling terdampak, seperti Asia Tenggara dan Eropa, berpotensi menghindari kesulitan ekonomi mereka sendiri," kata Bill Northey, Direktur Investasi di U.S. Bank Asset Management Group.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia tengah menyiapkan strategi penguatan rupiah melalui rencana penerbitan Panda Bonds atau instrumen utang dalam mata uang Yuan. Selain itu, pemerintah berencana merevisi aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang mewajibkan eksportir mengonversi maksimal 50 persen dana mereka ke rupiah mulai 1 Juni 2026.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·