Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil kembali menembus zona 7.600 pada perdagangan Kamis (16/4/2026) setelah sempat terpuruk di level 6.900 beberapa waktu lalu. Dilansir dari Bloombergtechnoz, kenaikan signifikan ini terjadi dalam sepekan terakhir dengan penguatan sekitar 9 persen dari titik terendah.
Analis Algo Research, Alvin Baramuli, menjelaskan bahwa meskipun terjadi pemulihan, posisi IHSG saat ini masih berada 16 persen di bawah level tertinggi sepanjang masa yang pernah menyentuh angka 9.100. Pasar kini mulai mengantisipasi pengocokan ulang atau rebalancing indeks MSCI pada Mei 2026.
"Namun, pengurangan bobot investasi secara agregat sulit dihindari," kata Alvin, Analis Algo Research. Penurunan bobot ini diprediksi tetap terjadi meskipun Indonesia diyakini bertahan di kategori Emerging Market (EM) karena perbaikan faktor transparansi di pasar modal domestik.
Potensi pengurangan bobot investasi Indonesia kian nyata menyusul peningkatan status Vietnam dan Yunani menjadi Emerging Market. Perubahan status kedua negara tersebut diperkirakan akan memicu perpindahan alokasi dana investor asing yang selama ini berada di pasar saham Indonesia.
Kinerja sejumlah saham perusahaan besar, termasuk PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), berada dalam posisi rawan terdepak dari indeks global tersebut. Keputusan akhir sangat bergantung pada metodologi granular yang diterapkan MSCI berdasarkan data terbaru dari Bursa Efek Indonesia (BEI).
Selain faktor MSCI, kondisi fiskal dalam negeri juga menunjukkan tekanan signifikan dengan defisit anggaran yang mencapai Rp240 triliun atau 0,93 persen dari PDB per Maret 2026. Angka ini melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp100 triliun atau 0,4 persen dari PDB.
Lonjakan defisit dipicu oleh tingginya harga minyak dunia yang menyentuh US$100 per barel, jauh melampaui asumsi awal pemerintah sebesar US$70 per barel. Pemerintah diprediksi akan melakukan revisi APBN pada Agustus mendatang guna mengantisipasi risiko stagflasi dan kenaikan harga BBM bersubsidi.
Di tingkat global, ketidakpastian situasi di Selat Hormuz masih menjadi variabel yang membayangi stabilitas rantai pasok. Gangguan logistik yang berkepanjangan dikhawatirkan memicu kerusakan permintaan secara masif di pasar internasional meskipun gencatan senjata sementara telah disepakati.
Algo Research memproyeksikan pergerakan IHSG akan cenderung mendatar dalam rentang 7.300 hingga 8.000 untuk jangka menengah. Kondisi ini dipengaruhi oleh terbatasnya potensi sektor komoditas seperti nikel dan batu bara akibat penurunan harga global dan rencana kenaikan royalti oleh pemerintah.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·