Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan sebesar 32,15 poin atau 0,42 persen ke posisi 7.653,53 pada pembukaan perdagangan Jumat (17/4/2026). Pergerakan positif di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini dipicu oleh optimisme perundingan geopolitik global serta stabilitas instrumen keuangan domestik.
Data awal sesi menunjukkan indeks bergerak pada rentang 7.613,43 hingga 7.659,34 setelah dibuka di level 7.645,81. Capaian ini melampaui posisi penutupan hari sebelumnya yang berada di level 7.621,38, sebagaimana dilansir dari Money.
Aktivitas transaksi di pasar modal terpantau cukup dinamis dengan volume perdagangan mencapai 7,046 miliar saham. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 2,601 triliun melalui frekuensi 457,7 ribu kali, di mana 294 saham terpantau menguat berbanding 278 saham yang melemah.
| LQ45 | 761,06 | 3,74 | 0,49% |
| KOMPAS100 | 1.058,63 | 6,39 | 0,61% |
| JII (Syariah) | 534,66 | 5,39 | 1,02% |
| ISSI (Syariah) | 277,92 | 1,40 | 0,51% |
| IDX30 | 405,37 | 2,18 | 0,54% |
| JII70 | 201,86 | 1,74 | 0,87% |
Kondisi pasar global turut memberikan sentimen positif melalui harapan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Langkah diplomasi tersebut diperkirakan mampu meredakan tensi geopolitik sekaligus menekan harga minyak mentah dunia yang menguntungkan pasar modal.
Meskipun menguat, para analis memprediksi pergerakan indeks akan terbatas akibat adanya tekanan teknikal. Phintraco Sekuritas dalam risetnya mengidentifikasi bahwa posisi indeks saat ini telah memasuki area jenuh beli yang rentan terhadap aksi ambil untung oleh investor.
"Secara teknikal, kondisi IHSG yang masih berada di area overbought mendorong terjadinya profit taking. Sehingga diperkirakan IHSG masih akan bergerak sideways pada kisaran 7.550-7.700," tulis Phintraco Sekuritas.
Penilaian tersebut didasari pada ulasan hari Kamis (16/4/2026) setelah IHSG ditutup melemah tipis 0,03 persen. Di sisi lain, sektor valuta asing menunjukkan nilai tukar rupiah menguat terbatas 0,02 persen ke level Rp 17.136 per dollar AS.
Bank Indonesia terus memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar melalui optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sejak Februari 2026, frekuensi lelang instrumen penyerap likuiditas ini telah ditingkatkan menjadi dua kali dalam sepekan untuk menjaga stabilitas domestik.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·