IHSG Merosot ke Level 6.969 Akibat Tekanan Sektor Industri Dasar

Sedang Trending 51 menit yang lalu

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyudahi perdagangan pada Jumat (8/5) di teritori negatif. Dilansir dari Detik Finance, indeks mengalami depresiasi sebesar 2,86 persen yang membuatnya terlempar ke level 6.969,40.

Koreksi tajam ini dipicu oleh rontoknya performa mayoritas sektor saham di bursa. Sektor industri dasar mencatatkan rapor merah paling dalam dengan penurunan mencapai 7,80 persen di akhir perdagangan.

Berbanding terbalik dengan kondisi pasar secara umum, sektor kesehatan justru tampil dominan. Bidang ini menjadi satu-satunya sektor yang mampu menguat dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,70 persen.

Sejumlah saham terpantau memberikan dukungan terhadap pergerakan indeks agar tidak jatuh lebih dalam. Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) melonjak 20 persen, sementara Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menguat 1,02 persen.

Selain itu, saham Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) juga mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 12,36 persen. Namun, penguatan ini belum cukup membendung laju penurunan indeks akibat tekanan dari emiten besar lainnya.

Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi penekan utama setelah anjlok 11,83 persen. Saham Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga terkoreksi masing-masing 14,94 persen dan 9,27 persen.

Aktivitas investor mancanegara di pasar reguler menunjukkan aksi jual bersih dengan nilai mencapai Rp485,02 miliar. Fenomena ini menambah tekanan pada pergerakan harga saham domestik sepanjang hari.

Meski demikian, jika diakumulasikan di seluruh pasar, investor asing masih mencatatkan beli bersih sebesar Rp11,42 triliun. Di sisi lain, indeks eksternal seperti ETF EIDO dan MSCI Indonesia masing-masing melemah 1,46 persen dan 2,59 persen.

Rencana Revisi Royalti Mineral

Pasar saat ini tengah memberikan perhatian khusus terhadap kebijakan pemerintah terkait revisi PP Nomor 19 Tahun 2025. Kementerian ESDM sedang mengkaji penyesuaian tarif royalti untuk sejumlah komoditas mineral penting.

Langkah ini diambil menyusul lonjakan Harga Mineral Acuan (HMA) sepanjang tahun 2026. Penyesuaian tarif diusulkan berlaku untuk komoditas tembaga, timah, nikel, emas, hingga perak melalui mekanisme public hearing.

Berdasarkan data terbaru, harga perak telah meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$79,27 per troy ons. Sementara harga emas bertengger di US$4.746 per troy ons dan timah mencapai US$51.101 per ton.

Komoditas lainnya seperti tembaga berada di level US$12.655 per dmt, sedangkan nikel menyentuh US$16.822 per dmt. Kenaikan harga-harga acuan ini menjadi landasan pemerintah dalam merumuskan tarif royalti yang baru.

Dalam draf usulan, royalti tembaga direncanakan naik menjadi 7%-10% dan emas menjadi 14%-20%. Untuk komoditas perak, tarif diusulkan berkisar 6%-8%, sementara timah naik menjadi 5%-12,5% dengan skema lapisan tarif tambahan.

Kabar Emiten WBSA dan MAPI

Di lantai bursa, BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) menarik perhatian karena masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC). Kepemilikan saham di emiten ini terkonsentrasi hingga 95,82 persen dari total modal.

WBSA merupakan perusahaan perdana yang melakukan IPO tahun ini dengan melepas 1,8 miliar saham pada harga Rp168 per saham. Perseroan kini sejajar dengan BREN dan DSSA dalam kategori konsentrasi kepemilikan tinggi.

Sementara itu, terjadi perubahan struktur kendali pada Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Pacific Universal Investments resmi mengambil alih 51 persen saham perusahaan dari Satya Mulia Gema Gemilang senilai Rp11,81 triliun.

Transaksi strategis tersebut dilakukan pada harga Rp1.395 per saham untuk total 8,46 miliar lembar saham. Setelah aksi ini, Pacific Universal dijadwalkan melakukan penawaran tender wajib dengan harga pelaksanaan Rp1.550 per saham.