Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1 persen untuk tahun 2026 dalam laporan World Economic Outlook yang dirilis pada Selasa (14/4/2026). Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu stabilitas pasar energi dunia.
Laporan tersebut menunjukkan adanya perlambatan dibandingkan proyeksi sebelumnya karena momentum pemulihan ekonomi yang sempat muncul pada akhir 2025 kini terhenti. Kondisi ini menempatkan ekonomi dunia dalam risiko ketidakpastian yang lebih tinggi, sebagaimana dilansir dari Money.
"Perang di Timur Tengah telah menghentikan momentum tersebut," ujar Pierre-Olivier Gourinchas, Direktur Departemen Riset IMF, dalam konferensi pers pada Selasa (14/4/2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa konflik bersenjata menjadi faktor utama penghambat distribusi energi global.
IMF juga menyusun dua skenario risiko tambahan, yakni skenario buruk (adverse) dan sangat berat (severe). Dalam skenario buruk, pertumbuhan ekonomi global diprediksi jatuh ke angka 2,5 persen, sementara skenario sangat berat dapat menekan pertumbuhan hingga ke level 2 persen.
Pertumbuhan di angka 2 persen dianggap sebagai zona merah yang mendekati kondisi resesi global dalam literatur ekonomi. Skenario tersebut didasarkan pada asumsi jika gangguan pasokan energi berlangsung lebih lama dan memicu instabilitas makroekonomi yang meluas di berbagai negara.
Lonjakan harga komoditas seperti minyak, gas, pupuk, dan aluminium saat ini disebabkan oleh kerusakan fasilitas energi serta penutupan Selat Hormuz. Dampak ini menciptakan tantangan ganda berupa pertumbuhan yang melambat di tengah inflasi yang tetap tinggi bagi masyarakat global.
Meskipun risiko meningkat, IMF belum menetapkan status resesi global secara resmi karena arah ekonomi sangat bergantung pada perkembangan konflik. Saat ini posisi ekonomi dunia dinilai berada di antara skenario dasar dan skenario buruk, dengan batas perlambatan yang semakin tipis.
Gourinchas menyarankan agar bank sentral tetap berfokus pada stabilitas harga tanpa harus melakukan pengetatan agresif secara mendadak selama ekspektasi inflasi terkendali. Di sisi lain, pemerintah didorong memberikan bantuan fiskal yang lebih terarah bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap kenaikan harga.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·