Imunolog dari Universitas Airlangga (Unair), dr. Ari, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi penyebaran virus Hanta yang ditularkan melalui tikus, menyusul laporan temuan dua kasus infeksi di kapal pesiar MV Hondius baru-baru ini. Peringatan ini disampaikan dalam catatan tertulis yang diterima pada Jumat (8/5/2026) guna menjelaskan karakteristik virus yang sempat memicu keterlibatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Sejarah virus ini bermula saat ribuan tentara Amerika Serikat dan PBB terinfeksi gejala misterius berupa perdarahan dan gangguan ginjal pada masa Perang Korea. Identifikasi penyebab medis tersebut baru berhasil dilakukan secara mendalam pada dekade 1970-an melalui berbagai riset panjang.
"Melalui riset yang cukup panjang, penyebabnya dapat diidentifikasi pada tahun 1976-1978. Virus Hanta (Hantaan virus/HNTV) adalah biang keladinya," tulis dr. Ari, Imunolog Unair.
Berdasarkan klasifikasinya, terdapat varian strain HFRS yang menyebabkan demam berdarah serta gagal ginjal akut dengan tingkat fatalitas hingga 15 persen. Namun, terdapat strain lain yang dinilai jauh lebih mematikan bagi sistem pernapasan manusia.
"HFRS menyiratkan makna demam berdarah dan gagal ginjal akut, sebagai manifestasi utamanya. Angka kematiannya mencapai sekitar satu hingga 15 persen," jelas dr. Ari.
Bahaya lebih tinggi datang dari strain Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menargetkan paru-paru. Strain ini memiliki tingkat kematian mencapai 40 persen karena risiko gagal napas yang membutuhkan penanganan medis intensif.
"Gagal napas yang memerlukan penatalaksanaan intensif dengan bantuan ventilator, menjadi risiko utamanya. Mortalitasnya mencapai sekitar 40 persen," lanjut dr. Ari.
Indonesia sendiri tercatat pernah mendeteksi setidaknya delapan kasus virus Hanta di wilayah Jawa Barat, DIY, NTT, dan Sulawesi Utara pada pertengahan Juni 2025. Penularan utama terjadi melalui ekskreta tikus seperti urine dan kotoran yang mengering dan terhirup oleh manusia.
"Campuran debu, air kencing, dan kotoran tikus yang mengering, dapat terhirup memasuki saluran napas manusia," tulis dr. Ari.
Meskipun penularan antarmanusia sangat langka dan hanya ditemukan pada strain Andes yang sangat ganas, kelompok pekerja tertentu seperti petani dan petugas kebersihan tetap memiliki risiko paparan tinggi. Gejala awal infeksi sering kali menyerupai flu sebelum memburuk menjadi kondisi klinis yang berat.
"Selanjutnya gangguan pernapasan dapat berkembang dengan cepat. Pada fase ini, gambaran klinis yang tampak adalah sesak napas, sembab paru, hipotensi, dan syok," tulis dr. Ari.
Hingga saat ini, belum ditemukan vaksin atau obat antivirus spesifik untuk mengatasi penyakit ini. dr. Ari menekankan bahwa menjaga kebersihan lingkungan dan meminimalkan kontak dengan hewan pengerat merupakan langkah pencegahan paling efektif.
"Mencegah lebih baik daripada mengobati, masih proporsional diterapkan untuk menghadapi HNTV. Meminimalkan kontak dengan tikus, merupakan tindakan preventif terbaik," tegas dr. Ari.
Sebagai penutup, ia memprediksi bahwa virus ini kecil kemungkinan memicu epidemi luas karena keterbatasan pola penularan antarmanusia yang membutuhkan kontak sangat erat.
"Berdasarkan cara penularan antar manusia yang memerlukan kontak erat, diprediksi virus Hanta tidak akan memicu epidemi," pungkas dr. Ari.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·