Indef: Tren web mandiri transformasi pergeseran ekonomi usaha digital

Sedang Trending 1 jam yang lalu
linimasa di media sosial ramai dengan narasi tingginya biaya administrasi 'marketplace' yang membuat pelaku usaha mempertimbangkan membangun website sendiri

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Center of Digital Economy and SMEs The Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai meningkatnya penjual beralih ke website mandiri mencerminkan transformasi ekonomi digital, seiring tingginya persaingan "marketplace" atau loka pasar dan kebutuhan usaha digital.

"Keluhan soal biaya marketplace yang semakin tinggi sedang naik daun. Dalam beberapa hari terakhir, linimasa di media sosial ramai dengan narasi tentang tingginya biaya administrasi marketplace yang membuat pelaku usaha mulai mempertimbangkan untuk membangun website sendiri," kata Peneliti Center of Digital Economy and SMEs The Indef Fadhila Maulida di Jakarta, Kamis.

Menurut Fadhila, fenomena itu tidak bisa dilihat semata-mata sebagai dampak tingginya biaya platform. Lebih dari itu, kondisi tersebut mencerminkan perubahan yang lebih mendasar dalam struktur ekonomi digital Indonesia.

Ia mengatakan setidaknya terdapat faktor utama yang saling berkaitan dalam menjelaskan fenomena yang terjadi saat ini, yaitu daya beli masyarakat dan kapasitas UMKM.

Dari sisi permintaan, kata dia, daya beli masyarakat menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Meskipun secara agregat masih mencatatkan pertumbuhan, laju tersebut relatif terbatas jika dibandingkan dengan pesatnya pertumbuhan jumlah pelaku usaha digital.

Baca juga: Indef: "Swap currency" bantu stabilkan rupiah dalam jangka pendek

Baca juga: Indef: Gejolak geopolitik peluang RI perluas mitra dagang strategis

"Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah UMKM yang masuk ke ekosistem digital meningkat secara signifikan. Namun, pertumbuhan transaksi atau gross merchandise value (GMV) justru cenderung melambat,” tutur Fadhila.

Dijelaskan ketidakseimbangan itu menciptakan tekanan di pasar, di mana jumlah penjual meningkat cepat, sementara permintaan tidak bertumbuh sepadan.

Akibatnya, tingkat persaingan menjadi semakin tinggi, dan peluang setiap pelaku usaha untuk memperoleh penjualan optimal menjadi semakin sempit.

Di sisi lain, juga ada biaya platform yang terus meningkat. Menurut dia, loka pasar saat ini tidak lagi hanya menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli, tetapi telah bertransformasi menjadi struktur ekonomi yang sepenuhnya dimonetisasi. Platform ekosistem digital menjalankan proses yang kompleks.

"Mesin akuisisi pelanggan dalam skala masif, sistem pembayaran, jaringan logistik terintegrasi, hingga kanal pemasaran berbasis algoritma," jelasnya.

Ada berbagai biaya yang harus ditanggung, seperti biaya platform, layanan, hingga promosi yang relatif tinggi. Ditambah lagi dengan adanya biaya iklan digital serta biaya logistik yang masih tinggi karena belum merata antar wilayah.

“Pada akhirnya, yang terjadi adalah kombinasi tekanan yang cukup berat, pertumbuhan permintaan yang terbatas, kompetisi yang semakin tajam, serta kapasitas UMKM yang masih perlu ditingkatkan,” terang Fadhila.

Di sisi lain, kapasitas UMKM masih menjadi persoalan yang mendasar. Menurut dia, kebijakan pemerintah dalam mendorong digitalisasi UMKM memang patut diapresiasi karena berhasil menurunkan hambatan untuk masuk ke platform digital.

Namun, kemudahan akses tersebut tidak selalu diikuti dengan peningkatan kualitas dan kesiapan usaha UMKM oleh pemerintah.

“Kemampuan untuk bersaing menjadi pertanyaan berikutnya, apakah UMKM sudah cukup siap atau belum? Faktanya, masih banyak pelaku usaha yang belum siap masuk ke marketplace," kata dia.

Kesiapan itu mencakup berbagai aspek, mulai dari strategi penetapan harga, kemampuan digital marketing, pengelolaan biaya, hingga pemanfaatan data pelanggan.

Pada akhirnya, tambah Fadhila, tantangan ekonomi digital saat ini tidak hanya soal bagaimana membawa UMKM masuk ke platform, tetapi bagaimana memastikan mereka mampu bertahan dan berkembang di dalamnya.

"Tanpa perbaikan daya beli masyarakat dan peningkatan kapasitas UMKM, transformasi digital berisiko hanya menjadi perluasan pasar yang tidak diikuti dengan peningkatan kesejahteraan pelaku usahanya," katanya.

Loka pasar dinilai telah menggabungkan berbagai fungsi distribusi sekaligus, mulai dari akses ke jutaan konsumen, sistem pembayaran, layanan logistik, perlindungan transaksi, hingga dukungan promosi dan diskon.

Karena itu, sebagian pelaku usaha memandang potongan biaya sekitar 20 persen bukan hanya sebagai biaya platform semata, melainkan sebagai biaya distribusi yang mencakup banyak layanan secara terintegrasi.

Dengan begitu, Indef juga menyebut tantangan terbesar ekonomi digital Indonesia bukan hanya memperluas akses UMKM ke loka pasar, tetapi menciptakan ekosistem yang sehat dan berkelanjutan bagi seluruh pihak.

"Dibutuhkan keseimbangan antara pertumbuhan platform, perlindungan pelaku usaha, serta penguatan daya beli masyarakat agar ekonomi digital dapat tumbuh lebih inklusif," katanya.

Baca juga: Indef: Surplus neraca perdagangan Maret positif dukung perekonomian RI

Baca juga: Ekonom nilai hilirisasi fase II bisa dorong transformasi industri

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.