Indeks Saham AS Tembus Rekor Baru di Tengah Sinyal Damai Timur Tengah

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Indeks S\&P 500 naik 0,3 persen hingga mencatat rekor tertinggi baru setelah melampaui level 7.000 untuk pertama kalinya pada Kamis, 16 April 2026. Penguatan ini didorong oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai prospek kesepakatan nuklir dengan Iran dan pengumuman gencatan senjata antara Israel serta Lebanon, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.

Presiden Trump menyebutkan bahwa Iran diyakini telah menyetujui syarat-syarat pelepasan ambisi senjata nuklir yang sebelumnya mereka tolak. Selain itu, Trump mengumumkan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon tanpa menyebutkan kelompok Hezbollah secara spesifik. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mengonfirmasi kesepakatan tersebut melalui pesan video.

Perkembangan geopolitik ini turut mendongkrak Nasdaq 100 sebesar 0,5 persen ke rekor tertinggi baru, didorong oleh kenaikan tajam saham teknologi setelah Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. melaporkan prospek pendapatan yang kuat. Berikut adalah ringkasan pergerakan pasar modal global:

Tabel Pergerakan Indeks Saham UtamaIndeks SahamPersentase Kenaikan
S\&P 5000,3%
Nasdaq 1000,5%
Dow Jones Industrial Average0,2%
MSCI World Index0,2%

Sentimen positif ini muncul meski harga minyak mentah Brent masih diperdagangkan di kisaran US$98,15 per barel. Analis pasar menilai investor mulai menunjukkan ketahanan terhadap dinamika konflik di kawasan Teluk yang selama ini membayangi pasar energi global.

Pakar strategi dari BMO, Ian Lyngen, memberikan catatan mengenai fenomena penguatan pasar yang tetap terjadi di tengah fluktuasi berita perang tersebut.

“Ini adalah tanda lain dari kelelahan pasar terhadap berita utama terkait perang di kawasan Teluk,” kata Ian Lyngen dari BMO.

Lyngen menambahkan bahwa pola konsolidasi yang ada saat ini mengindikasikan bahwa dampak dari berita geopolitik mulai kehilangan pengaruhnya terhadap pergerakan harga di pasar.

“Pola konsolidasi yang terjadi juga menunjukkan bahwa pengaruh berita geopolitik terbaru mulai memudar,” kata Ian Lyngen dari BMO.

Di sisi lain, mantan Menteri Keuangan AS Henry Paulson mengeluarkan peringatan keras mengenai kondisi pasar utang pemerintah Amerika Serikat. Paulson mendesak otoritas terkait untuk segera menyiapkan langkah mitigasi guna menghindari kerugian yang lebih luas pada stabilitas ekonomi nasional.

“Mantan Menteri Keuangan AS Henry Paulson meminta otoritas AS menyiapkan rencana cadangan untuk mencegah potensi runtuhnya permintaan di pasar utang pemerintah AS senilai $31 triliun — sebuah peristiwa yang ia peringatkan bisa berdampak “sangat merusak.”” kata Henry Paulson, mantan Menteri Keuangan AS.

Pandangan berbeda datang dari manajemen aset yang menyoroti keterbatasan potensi penguatan pasar ke depan. Michael Bell dari RBC BlueBay Asset Management menilai bahwa pasar mungkin sudah terlalu dini dalam mengasumsikan penyelesaian konflik di Selat Hormuz.

“Investor telah terbiasa membeli setiap penurunan,” kata Michael Bell dari RBC BlueBay Asset Management.

Bell menekankan bahwa situasi saat ini sangat bergantung pada kepastian pembukaan kembali jalur pelayaran vital tersebut bagi pasokan energi dunia.

“Prospeknya bersifat biner, apakah Selat Hormuz akan segera dibuka kembali atau tidak. Dengan pasar saham sudah mengasumsikan pembukaan kembali akan terjadi dalam waktu dekat, potensi kenaikan mungkin menjadi terbatas,” kata Michael Bell dari RBC BlueBay Asset Management.

Hingga penutupan perdagangan, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat naik tipis menjadi 4,31 persen, sementara Bitcoin menguat 0,8 persen ke level US$75.474,38.