Jakarta (ANTARA) - Industri kripto di Indonesia dinilai telah berkembang dari sekadar eksperimen teknologi menjadi bagian dari ekosistem keuangan digital yang semakin matang, teregulasi dan mendapat kepercayaan luas dari masyarakat.
CEO Indodax William Sutanto mengatakan hal itu tercermin dari pertumbuhan jumlah member Indodax yang mencapai hampir 10 juta member menjelang peringatan Bitcoin Pizza Day pada 22 Mei.
Menurut dia, pertumbuhan jumlah member tersebut tidak hanya menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap aset digital, tetapi juga meningkatnya kebutuhan terhadap platform perdagangan kripto yang mengedepankan keamanan, transparansi, dan kepatuhan terhadap regulasi.
“Perjalanan industri kripto hari ini sudah sangat berbeda dibanding satu dekade lalu. Jika dahulu fokus utamanya adalah akses dan adopsi, kini industri bergerak menuju fase yang lebih matang dengan menempatkan kepercayaan dan perlindungan pengguna sebagai prioritas utama,” ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Dia menjelaskan Bitcoin Pizza Day merupakan momen historis dalam industri kripto global yang merujuk pada transaksi pembelian dua loyang pizza menggunakan Bitcoin pada 2010. Transaksi ini adalah tonggak sejarah, pertama kali Bitcoin memiliki nilai ekonomi di dunia nyata.
Dari peristiwa tersebut, lanjutnya, kripto berkembang menjadi instrumen digital dengan tingkat adopsi yang terus meningkat secara global, termasuk di Indonesia.
William menyebutkan berdasarkan data Otoritas Jasa Keungan (OJK) per Maret 2026, jumlah pengguna kripto nasional telah mencapai 21,37 juta pengguna yang mana hampir separuhnya atau sekitar 46,5 persen merupakan member Indondax.
Menurut dia, pertumbuhan industri juga diikuti oleh perubahan standar operasional yang semakin ketat. Seiring bertambahnya jumlah pengguna dan hadirnya pengawasan industri kripto melalui Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), pelaku industri dituntut untuk meningkatkan tata kelola, transparansi, serta sistem keamanan yang lebih komprehensif.
Dalam hal ini, lanjutnya, aspek Know Your Customer (KYC) Hygiene menjadi salah satu fondasi penting untuk meminimalkan risiko penyalahgunaan identitas, fraud digital, hingga ancaman siber yang semakin kompleks di era digital saat ini.
"Dalam industri yang terus berkembang, keamanan tidak lagi hanya berbicara soal perlindungan aset, tetapi juga perlindungan identitas digital pengguna. Karena itu, praktik KYC Hygiene dan penguatan sistem keamanan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem kripto yang sehat dan berkelanjutan," katanya.
Sejalan dengan meningkatnya standar transparansi industri, INDODAX juga menyediakan Proof of Reserves (PoR) sebagai salah satu bentuk akuntabilitas perusahaan terhadap member.
Melalui sistem ini, aset pengguna dapat diverifikasi secara berkala untuk memastikan ketersediaan dana yang tersimpan di platform tetap terjaga secara transparan.
Langkah ini menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan publik sekaligus mendorong penerapan standar operasional industri aset digital yang berorientasi pada perlindungan pengguna.
Pewarta: Subagyo
Editor: Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·