Indonesia Percepat Hilirisasi Nikel Guna Perkuat Ekosistem Baterai EV

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Indonesia terus memacu percepatan hilirisasi nikel untuk memperkuat ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) di tengah ketidakpastian pasokan bahan bakar minyak global pada Selasa (14/4/2026). Momentum ini dimanfaatkan pemerintah guna mengamankan rantai pasok energi domestik sekaligus mengejar target dekarbonisasi.

Dilansir dari Money, Mordekhai Aruan selaku Head of External Relations Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menyatakan bahwa cadangan nikel yang melimpah menjadi modal strategis nasional. Situasi volatilitas harga minyak dunia saat ini dinilai mempertegas urgensi pembangunan industri baterai di dalam negeri.

Pembangunan rantai pasok ini selaras dengan peta jalan pemerintah menuju Net Zero Emission 2060. Industri nikel tanah air dilaporkan telah bertransformasi dari sekadar penghasil nickel pig iron menjadi produk bernilai tambah seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), nikel sulfat, hingga precursor cathode active material (PCAM).

"Urgensi pembangunan supply chain EV berbasis nikel di Indonesia sebetulnya telah terasa cukup tinggi sejak 2-3 tahun terakhir," ujar Mordekhai Aruan, Head of External Relations Forum Industri Nikel Indonesia (FINI). Ia menekankan posisi strategis Indonesia dalam pasar global saat ini.

Kapasitas produksi nasional didorong oleh investasi teknologi pengolahan smelter berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL). Salah satu penggerak utama, PT QMB New Energy Materials, saat ini memiliki kapasitas produksi MHP sebesar 150.000 ton per tahun untuk memasok bahan baku baterai.

Selain MHP, konsorsium tersebut juga memproduksi 30.000 ton NCM sulfates serta 50.000 ton prekursor setiap tahunnya. Integrasi produksi dari hulu ke hilir ini diharapkan dapat menjaga ketersediaan bahan baku dalam negeri dan meningkatkan daya saing ekspor produk teknologi tinggi.

Aspek pengembangan sumber daya manusia (SDM) turut menjadi prioritas dengan total investasi lebih dari 40 juta dollar AS dari pihak investor. Sebanyak 266 talenta lokal kini menjalani program pengembangan melalui kolaborasi dengan LPDP dan Central South University di China.

Guru Besar ITB, Prof. Mohammad Zaki Mubarok, menegaskan bahwa penguatan SDM harus dibarengi dengan pembangunan ekosistem inovasi. Pembangunan pusat riset bersama dan fasilitas pilot plant dinilai krusial untuk mempercepat transfer teknologi di sektor industri pertambangan.

Langkah ini diprediksi akan memberikan dampak ekonomi luas melalui penciptaan lapangan kerja baru di sektor energi hijau. Keberlanjutan hilirisasi nikel kedepannya sangat bergantung pada kemampuan Indonesia dalam menciptakan ekosistem pengolahan bijih secara menyeluruh.