Indonesia resmi memasuki fase penuaan penduduk atau aging population. Perubahan besar dalam struktur demografi ini terjadi setelah proporsi penduduk lanjut usia di dalam negeri terus mengalami peningkatan.
Hasil Survei Penduduk Antar Sensus atau SUPAS 2025 menunjukkan bahwa proporsi penduduk lanjut usia telah mencapai 11,97 persen dari total populasi. Angka ini resmi melewati ambang batas 10 persen yang menjadi indikator sebuah negara memasuki fase penuaan penduduk, seperti dikutip dari Money.
Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti, membenarkan pergeseran demografi tersebut.
"Persentase lansia hasil SUPAS 2025 adalah sebesar 11,97 persen, yang menunjukkan Indonesia sudah memasuki fase penuaan penduduk," ujar Amalia sebagaimana dikutip dalam publikasi hasil SUPAS 2025.
Tren peningkatan ini tercatat sudah berlangsung selama lebih dari satu dekade terakhir. Pada 2010, persentase lansia di Indonesia berada di angka 7,59 persen, kemudian bergerak naik menjadi 8,47 persen pada 2015, dan menyentuh 9,93 persen pada 2020 sebelum akhirnya menembus 11,97 persen pada 2025.
Lonjakan jumlah lansia memicu tantangan baru yang signifikan bagi keluarga sebagai garda terdepan perawatan. Kondisi ini memperberat tekanan bagi generasi sandwich, yaitu kelompok usia produktif yang harus menopang kebutuhan anak-anak sekaligus orangtua mereka.
Menurut Investopedia, fenomena ini merujuk pada individu usia paruh baya yang berada dalam posisi terjepit untuk memberikan dukungan finansial serta emosional dari dua arah sekaligus. Meningkatnya harapan hidup dan kecenderungan memiliki anak pada usia matang menjadi faktor pendorong utama fenomena ini.
Beban yang dipikul kelompok ini mencakup pembiayaan pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, penyediaan tempat tinggal, hingga manajemen kesehatan orangtua yang menua. Laporan Kependudukan Indonesia 2025 yang dirilis UNFPA Indonesia juga mencatat bahwa tantangan terkait kelompok usia lanjut akan semakin besar seiring era aging population.
Dampak Finansial dan Tekanan Emosional
Tekanan keuangan menjadi salah satu hambatan terbesar karena pengeluaran untuk perawatan lansia terus meningkat. Di saat bersamaan, kelompok produktif ini harus tetap mengelola karier dan menyiapkan tabungan pensiun mereka sendiri agar tidak mengalami kesulitan finansial di masa tua.
Banyak anggota generasi sandwich, termasuk kelompok Gen X berusia 40 hingga 60 tahun, harus menyesuaikan jam kerja atau mengambil cuti demi mengurus keluarga. Masalah ini juga berdampak pada aspek non-keuangan.
Penelitian dalam National Library of Medicine menyebutkan bahwa pengasuh generasi sandwich, yang mayoritas adalah perempuan, menghabiskan rata-rata tiga jam per hari di luar jam kerja untuk merawat orangtua dan anak. Hal ini memicu tekanan emosional yang tinggi dan keterbatasan waktu untuk diri sendiri.
Kemunculan Struktur Perawatan yang Lebih Kompleks
Perubahan demografi global juga melahirkan variasi baru seperti club sandwich generation, yakni kelompok usia 50 hingga 60 tahun yang merawat orangtua, anak dewasa, sekaligus cucu. Selain itu, terdapat istilah open-faced sandwich generation untuk individu yang terlibat dalam perawatan lansia secara lebih luas.
Konfigurasi multigenerasi ini diperkirakan akan menjadi bagian yang semakin penting dalam dinamika sosial dan ekonomi keluarga di Indonesia. Melalui data SUPAS 2025, struktur demografi Indonesia dipastikan sedang bergerak menuju masyarakat yang semakin menua.
44 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·