Indonesia Siap Ekspor Surplus Pupuk 1,5 Juta Ton ke India

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Pemerintah Indonesia berencana mengekspor surplus produksi pupuk nasional sebanyak 1,5 juta ton ke sejumlah negara mitra, termasuk India, guna memperkuat posisi strategis dalam rantai pasok global. Kebijakan ini diambil setelah memastikan ketersediaan pupuk dalam negeri tetap aman meskipun terjadi ketegangan geopolitik internasional, Kamis (16/4/2026).

Dilansir dari Detik Finance, kepastian ketersediaan stok tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono usai bertemu Duta Besar India dan jajaran Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) di Jakarta. Pemerintah mencatat adanya kelebihan produksi yang signifikan untuk dialokasikan ke pasar luar negeri.

Sudaryono menekankan bahwa prioritas utama tetap diberikan untuk menjamin kebutuhan petani lokal sebelum mengirimkan komoditas tersebut ke mancanegara. Kelebihan stok muncul berdasarkan hasil penghitungan terbaru terhadap total produksi nasional.

"Kita Indonesia akan mengutamakan kebutuhan pupuk dalam negeri. Setelah kita hitung, ada ekses atau kelebihan sekitar 1,5 juta ton yang bisa kita ekspor ke luar negeri," jelas Sudaryono, Wakil Menteri Pertanian.

Peluang ekspor ke India dinilai sangat memungkinkan karena adanya perbedaan periode bercocok tanam yang saling melengkapi antar kedua negara. Hal ini meminimalkan risiko gangguan distribusi di tingkat domestik saat permintaan global sedang tinggi.

"Pada prinsipnya, pemerintah Indonesia siap untuk kita bisa ekspor urea ke India, karena perbedaan musim tanam membuat pasokan tetap aman di dalam negeri," lanjut Sudaryono, Wakil Menteri Pertanian.

Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menyatakan ketertarikan negaranya untuk menyerap kelebihan stok pupuk tersebut. Mekanisme pembelian direncanakan melalui jalur formal antar pemerintah guna menjamin kelancaran transaksi.

"Ada permintaan dari India untuk mengimpor pupuk dari Indonesia. Bapak Wamentan telah menyampaikan dengan sangat jelas bahwa ekspor hanya akan dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi. Jika terdapat surplus, maka kami akan sangat senang untuk membelinya dari Indonesia melalui skema kerja sama antar pemerintah (G2G)," terang Sandeep Chakravorty, Duta Besar India untuk Indonesia.

Direktur Utama PIHC, Rahmad Pribadi, menambahkan bahwa pengawasan ketat terhadap siklus tanam nasional menjadi kunci utama dalam pelaksanaan ekspor. Strategi ini bertujuan agar aktivitas perdagangan internasional tidak berbenturan dengan puncak kebutuhan petani di tanah air.

"Kita ekspor ketika kebutuhan dalam negeri mencukupi. Kalau hitungan total nasional kan ada ekses tapi kita tahu ada musim tanam dan musim di luar tanam. Kita tidak mungkin ekspor saat musim tanam," jelas Rahmad Pribadi, Direktur Utama PIHC.

Resiliensi industri pupuk Indonesia dianggap mampu memberikan kontribusi nyata bagi stabilitas pangan di tingkat regional. Rahmad juga memaparkan rincian kapasitas produksi harian yang menopang cadangan nasional saat ini.

"Ini membuktikan resiliensi Indonesia di tengah gejolak global. Di sektor industri pupuk, kita tidak rentan, justru bisa mengambil peran membantu negara-negara yang membutuhkan pupuk," tambah Rahmad Pribadi, Direktur Utama PIHC.

Hingga saat ini, persediaan pupuk nasional dilaporkan mencapai 1,2 juta ton. Angka tersebut didukung oleh kapasitas produksi harian sebesar 25.000 ton untuk jenis urea dan 15.000 ton untuk NPK.

"Saat ini (stok pupuk) 1,2 juta ton, ditambah produksi harian sekitar 25.000 ton urea dan 15.000 ton NPK. Jadi sangat cukup," pungkas Rahmad Pribadi, Direktur Utama PIHC.