Indonesia Tetap Jajaki Impor Migas Rusia di Tengah Sanksi Amerika

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Pemerintah Indonesia menegaskan posisi politik luar negeri bebas aktif dengan tetap membuka peluang pembelian minyak mentah dari berbagai negara, termasuk Rusia, pada Kamis (15/4/2026). Langkah ini diambil di tengah pengumuman Amerika Serikat yang tidak memperpanjang dispensasi sanksi terhadap sektor minyak Rusia dan Iran.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa kedaulatan negara memungkinkan Indonesia mencari sumber energi dari mana pun. Saat ini, otoritas terkait sedang menjajaki pengadaan minyak mentah, Liquified Petroleum Gas (LPG), dan Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Rusia.

Bahlil menekankan bahwa meski membuka kerja sama dengan Rusia, Indonesia tetap akan menghormati seluruh kesepakatan pengadaan migas yang telah ditandatangani bersama Amerika Serikat.

"Jadi kita boleh belanja di mana saja selama kita komitmen dengan orang-orang atau negara-negara yang telah kita melakukan ajak kerja sama, termasuk Rusia kemudian Afrika—Nigeria — dan lebih khusus yang kita hargai juga adalah termasuk dengan perjanjian kita dengan Amerika," kata Bahlil di Istana Merdeka, Kamis (15/4/2026).

Di sisi lain, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent memastikan Washington tidak akan memberikan kelonggaran lebih lanjut terkait izin penjualan komoditas dari Rusia dan Iran pada Rabu di Gedung Putih.

"Kami tidak akan memperpanjang izin umum untuk minyak Rusia, dan kami tidak akan memperpanjang izin umum untuk minyak Iran," kata Bessent pada Rabu dalam konferensi pers di Gedung Putih.

Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman menambahkan bahwa tim teknis saat ini tengah berada di Rusia untuk mempersiapkan rincian impor komoditas energi. Indonesia sebelumnya telah mengumumkan rencana pembelian minyak mentah serta LPG dan kini mulai mempertimbangkan impor BBM.

"Iya, kemarin kan yang diumumkan itu crude sama LPG ya baru dua itu, yang BBM-nya belum disampaikan, tetapi itu kan penting," ujarnya, Rabu (15/4/2026).

Laode menjelaskan bahwa volume impor untuk kerja sama jangka panjang ini masih dalam tahap pembahasan. Komitmen ini berjalan beriringan dengan dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat yang mencakup kewajiban impor energi dari Negeri Paman Sam.

Rincian Kewajiban Impor Energi RI dari AS dalam Dokumen ARTKomoditasNilai Investasi (USD)Nilai Investasi (IDR)
BBM / Bensin OlahanUS$7 miliarRp118,26 triliun
Minyak MentahUS$4,5 miliarRp76,02 triliun
LPGUS$3,5 miliarRp59,13 triliun

Kesepakatan tersebut juga mewajibkan Indonesia memfasilitasi BUMN maupun sektor swasta untuk meningkatkan volume pembelian produk energi dari Amerika Serikat. Hal ini merupakan bagian dari struktur kesepakatan tarif resiprokal antara kedua negara.