DOSEN yang bergabung dalam kelompok keahlian teknik ketenagalistrikan Institut Teknologi Bandung (ITB), Syarif Hidayat, menyoroti beberapa masalah utama yang menyangkut pemadaman listrik total di sebagian besar wilayah di Sumatera, pekan lalu. Masalah blackout kelistrikan tersebut ditengarai berkaitan dengan putusnya kabel kawat Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) di daerah Jambi.
Insiden blackout kelistrikan pada Jumat sore, 22 Mei 2026, dirasakan masyarakat di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, serta Jambi. Hingga Senin lalu, PT PLN (persero) masih berupaya menyalurkan listrik ke seluruh pelanggan.
Berbasis sejumlah foto yang beredar di media massa, Syarif menyebut kabel putus itu merupakan kawat transmisi. “Penyebab paling mungkin putusnya kawat itu karena kelelahan logam, lalu tertiup angin kencang,” katanya kepada Tempo, Senin 25 Mei 2026.
Menurut dia, kawat logam selalu bergetar kalau terkena angin dalam jangka panjang. Risiko putus semakin besar bila titiknya berdekatan dengan bagian penyambungan.
Selain kawat transmisi SUTET, kawat tanah yang berfungsi menangkal petir atau Ground Steel Wire juga bisa putus. Kawat tanah dipasang di bagian atas menara SUTET saluran ganda atau double circuit, sedangkan kawat transmisi di bawahnya. Ukuran kawat tanah itu sekitar 70 milimeter persegi atau lebih kecil dari kawat transmisi yang berukuran 300 milimeter persegi.
Syarif menyebut kawat transmisi semestinya lebih kebal terhadap kemungkinan putus. Karena itu, penyebab insiden di SUTET wilayah Jambi masih harus didalami dengan uji forensik.
Bukan Insiden Baru
Putusnya kawat tanah SUTET pernah terjadi di Jakarta pada November 2025—menyebabkan kebakaran besar di daerah Jatipulo, Jakarta. Kawat tanah yang putus saat itu menyentuh kawat transmisi SUTET di dan mengakibatkan short circuit alias korsleting litrik. Kawat transmisi atau fasa terputus hingga bisa memunculkan bunyi ledakan. “Begitu terjadi gangguan, aliran listrik otomatis diputuskan oleh sistem proteksi di gardu induk untuk melokalisir gangguan,” tutur Syarif.
Tak hanya di rumah pelanggan, pemadaman juga terjadi di areal pembangkit tenaga listriknya. Padahal, dia meneruskan, butuh waktu lama untuk menyalakan pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU, bahkan sampai 2-3 tiga hari.
Syarif juga menyinggung soal sistem transmisi listrik di Sumatera yang lemah. Jaringannya juga lebih terbatas dibanding sistem di Jawa. “Sehingga ketika terjadi gangguan, tidak ada saluran alternatifnya. Akibatnya jadi tumbang semua,” kata dia.
Ketika sambungan listrik terputus, tidak ada jalan lain untuk menghubungkan pembangkit dan beban daya listrik. Walhasil, konsumen tidak mendapat listrik, sementara pembangkit kelebihan daya setrum.
54 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·