Ini Kata Dosen Unair Soal Jejak Penularan Hantavirus

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Dosen dan peneliti di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair), Laura Navika Yamani, mengatakan virus hanta atau hantavirus umumnya tak muncul tiba-tiba di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar. Ia menengarai ada penumpang yang sempat terpapar sebelum perjalanan, misalnya dari wilayah dengan reservoir hewan pengerat.

“Masa inkubasi hantavirus dapat berlangsung beberapa pekan. Sehingga kasus baru dapat muncul ketika individu sudah berpindah lokasi,” kata Laura melalui keterangan tertulis, Selasa, 12 Mei 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Isu hantavirus menarik perhatian dunia setelah ramainya kabarnya soal gangguan pernapasan berat yang dialami penumpang kapal pesiar MV Hondius. Peristiwa yang terjadi di tengah perjalanan lintas negara itu menjadi sorotan otoritas kesehatan global. Masyarakat kembali diingatkan ihwal risiko penyakit zoonosis di tengah meningkatnya mobilitas manusia.

Menurut Laura, perjalanan laut ke luar negeri berpotensi memperluas jangkauan deteksi kasus. “Lokasi awal infeksi menjadi tidak jelas,” katanya.

Anomali Pola Penularan

Laura menjelaskan, hantavirus menular melalui paparan partikel yang berasal dari urin, feses, atau air liur hewan pengerat. Tak perlu kontak langsung, virus bisa menjangkit lewat inhalasi partikel yang terkontaminasi.

Terdiri dari puluhan varian, dia menyebut sebagian besar hantavirus tidak menunjukkan transmisi antarmanusia. Namun, beberapa strain tertentu, seperti Andes yang diidentifikasi di MV Hondius, memiliki kemampuan terbatas untuk menular antarmanusia. Karena itu, menurut Laura, investigasi epidemiologi dan analisis genomik tetap penting untuk memastikan pola penularan.

Perubahan iklim dan pergeseran habitat hewan juga mempengaruhi distribusi reservoir penyakit. “Aktivitas manusia di wilayah baru dan meningkatnya ekowisata memperbesar peluang kontak dengan sumber zoonosis yang sebelumnya terbatas di habitat tertentu,” tutur Laura yang juga Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Unair.

Gejala Awal yang Samar

Dari sisi klinis, Laura menjelaskan bahwa hantavirus memiliki gejala awal yang tidak spesifik, seperti demam, kelelahan, dan gangguan gastrointestinal. Kondisi ini dapat berkembang cepat menjadi pneumonia berat. Kemudian berlanjut ke Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), hingga syok. Pada fase ini, pasien membutuhkan penanganan intensif di fasilitas kesehatan.

Kondisi berat infeksi hantavirus, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi. “Pada kasus HPS, tingkat fatalitas dapat mencapai 30–50 persen. Terutama jika penanganan tidak dilakukan secara cepat,” ucap Laura.

Dia mengingatkan soal penguatan sanitasi, pemantauan gejala, serta komunikasi risiko untuk mencegah penyebaran hantavirus. Kesiapsiagaan sistem kesehatan dan deteksi dini, Laura meneruskan, sangat urgen untuk menahan eskalasi kasus serupa di masa depan.

Mengutip laporan Premium Tempo: “Mengapa Infeksi Virus Hanta Bisa Mendadak Fatal”, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kesehatan Masyarakat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Masdalina Pane, mengatakan kombinasi demam dam nyeri otot membuat gejala hasil hantavirus sering disangka sebagai flu biasa. Padahal, proses biologis di baliknya bisa jauh lebih agresif.

Pada kasus HPS, kata dia pasien cenderung mengalami kebocoran pembuluh darah. Sering terjadi di kawasan Amerika, virus masuk ke tubuh akan memperbanyak diri, lalu memicu respons imun berlebihan. Tubuh melepaskan sitokin dan kemokin—molekul pemicu peradangan—dalam jumlah besar yang akhirnya merusak jaringan.

Dalam situasi infeksi berat, efek virus ini bisa menimbulkan gagal jantung. “Masalahnya, semua itu sering baru disadari ketika pasien sudah memasuki fase kritis,” kata Masdalina.